RADAR JOGJA - Sebelum akhirnya ditetapkan sumbu filosofi sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO 18 September lalu, perjalanan panjang sejak sembilan tahun lalu ditempuh Dinas Kebudayaan DIJ. Keberhasilan itu sebagai modal utama meningkatkan kesejahteraan masyarakat DIJ.
Sekretaris Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIJ Cahyo Widayat mengakui tugas berat menanti pasca penetapan. Sebab, tujuan utamanya bukanlah penetapan, melainkan pelestarian dan pengembangan yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat DIJ.
"Penetapan akan membuat semua merasa memiliki dan mempunyai kewajiban berpartisipasi dalam proses-proses pelestarian dan pengembangannya," katanya.
Cahyo menjelaskan berbagai kegiatan pembangunan di sepanjang sumbu filosofi harus melalui asesmen setelah kawasan itu resmi sebagai warisan budaya dunia. "Ada semacam heritage impact assessment tertuang dalam rencana pengelolaan atau management plan sumbu filosofi yang telah disusun sebagai salah satu syarat pengajuan warisan budaya dunia ke UNESCO," ujarnya.
Ia menyebut, meski masih banyak pro dan kontra hal itu lumrah dan bisa diselesaikan dengam dialog. Sebab semua upaya yang dilakukan bermuara pada kesejahteraan masyarakat DIJ.
Pemprov DIJ akan tunduk pada aturan terkait, sehingga program yang dilaksanakan tidak akan semena-mena. Ini karena sejak awal pun pengajuannya sudah melalui kajian mendalam dan proses panjang termasuk manfaatnya ke depan.
"Muaranya adalah pariwisata, maka konsep pariwisata berkelanjutan akan diterapkan di kawasan sumbu filosofi. Pelaksanaanya harus berkolaborasi dengan semua pihak baik pemda, stakeholder, swasta maupun masyarakat," jelasnya.
Sementara dalam hal pengelolaan sumbu filosofi dijelaskan akan melibatkan dan mengikutsertakan semua komponen maupun masyarakat setempat. Sehingga bukan menjadi objek melainkan subjek. "Kita juga harus merangkul generasi muda, tentunya harus ada trik khusus berkomunikasi supaya mereka ikut mendukung pelestarian dan menerapkan nilai-nilai yang ada di sumbu filosofi," terangnya.
Wakil Ketua DPRD DIJ Huda Tri Yudiana mengatakan, DPRD DIJ pun berkomitmen penuh mendukung semua program dan kegiatan yang melestarikan sumbu filosofi sekaligus memanfaatkan sebagai modal utama untuk meningkatkan kesejahteraan DIJ. Terutama melalui sektor pariwisata.
Salah satu konsekuensi dari penetapan sekaligus menjadi kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat adalah mengembalikan tempat-tempat khusus sesuai dengan fasad aslinya. Dalam artian, demi kepentingan yang lebih besar dan kesejahteraan masyarakat yang lebih besar pua, maka memang perlu dilakukan hal-hal yang menjadi rekomendasi dari UNESCO. Konsekuensi itu menjadi sesuatu yang tak terhindarkan.
"Tetapi kita tahu karakter masyarakat DIJ ditambah adanya Ngarso Dalem, gubernur sekaligus Raja Keraton Jogjakarta yang bijaksana bisa berjalan dengan baik. Tentu dengan pendekatan sangat humanis, maka tidak akan ada masalah apalagi ujungnya demi mensejahterakan rakyat," tambahnya.
Budayawan Ki Tulus Widodo berpendapat penetapan sumbu filosofi sebagai warisan dunia sangat dibutuhkan dan penting karena sudah diperjuangkan sejak lama. Penetapan ini bukan titik akhir, namun justru merupakan titik awal tindak lanjut seperti sosialisasi kepada masyarakat, tidak terkecuali bagi generasi muda agar mengetahui dan menghayati.
"Ada pula dampak lain dari penetapan, di mana dimungkinkan Pemprov DIJ akan melakukan penataan dan membangun sesuatu di jalur sangkan paraning dumadi itu," tambahnya. (wia/laz)
Editor : Satria Pradika