JOGJA - Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat akan melaksanakan rangkaian peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan menggelar Hajad Dalem Sekaten.
Pelaksanaannya akan diawali sejak Kamis (21/09) atau 5 Mulud Jimawal 1957 hingga Kamis (28/09) atau 12 Mulud Jimawal 1957 (12 Rabiulawal 1445 H).
Rentang waktu tersebut yang dinamakan dengan Sekaten. Ditandai dengan dikeluarkannya sepasang Gamelan Sekati yakni Kanjeng Kiai (KK) Gunturmadu dan KK Nagawilaga dari dalam Keraton.
Kedua gamelan ini akan diletakkan di Pagongan Masjid Gedhe dan akan ditabuh selama kurun waktu tersebut.
Adapun jadwal rangkaian Hajad Dalem Sekaten Jimawal 1957 dimulai Kamis 21 September pukul 19.00-selesai Miyos Gangsa yang diawali pembagian udhik-udhik oleh Putra Dalem di Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti di Pelataran Kamandungan Lor/Keben.
Lanjut, Minggu 24 September pukul 06.30-selesai Gladi Resik Prajurit Jelang Garebeg Mulud di Kagungan Dalem Pelataran Kamandungan Kidul-Pagelaran. Senin, 25 September pukul 15.00-17.00 ada Hajad Dalem Numplak Wajik Panti Pareden, Kompleks Magangan, Keraton Yogyakarta.
Selanjutnya, Rabu 27 September pukul 18.30-selesai Kondur Gangsa diawali pembagian udhik-udhik oleh Ngarsa Dalem dan Pembacaan Riwayat Nabi Muhammad SAW di Kagungan Dalem Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta-Keraton Yogyakarta.
Kemudian Kamis 28 September pukul 08.00-12.00 ada Hajad Dalem Garebeg Mulud di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran-Kagungan Dalem Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta. Serta, Kamis 28 September pukul 19.00-selesai ada Bedhol Songsong Pementasan Wayang Kulit
Lakon Mahabarata Lampahan Pandawa Mahabhiseka dengan Dalang oleh M Riyo Cermokondhowijoyo di Kagungan Dalem Tratag Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta.
Keseluruhan rangkaian agenda tersebut bersifat terbuka dan dapat disaksikan oleh umum serta disiarkan melalui Instagram live @kratonjogja. Sedangkan, untuk agenda Bedhol Songsong akan disiarkan secara live streaming melalui Youtube Kraton Jogja.
Penghageng II KHP Widya Budaya KRT Rintaiswara mengatakan, prosesi pelaksanaan Garebeg Mulud tahun ini dilakukan dengan iring-iringan bregada prajurit dan tujuh gunungan.
“Gunungan yang berada di Bangsal Pancaniti, Kamandungan Lor, akan dibawa oleh Kanca Abang melalui Regol Brajanala-Sitihinggil Lor-Pagelaran-keluar lewat barat Pagelaran menuju Masjid Gedhe. Di Masjid Gedhe, setelah didoakan, akan ada dua buah gunungan yang dibawa menuju Pura Pakualaman dan Kompleks Kepatihan,” katanya kemarin (20/09).
Sementara gunungan untuk Pura Pakualaman akan dikawal oleh Prajurit Pura Pakualaman yakni Dragunder dan Plangkir. Adapun, terdapat lima jenis gunungan yang dibagikan pada prosesi pelaksanaan Garebeg Mulud.
Kelima jenisnya adalah Gunungan Kakung, Gunungan Estri/Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Dharat, dan Gunungan Pawuhan.
“Gunungan tersebut akan dikeluarkan secara berurutan dari Keraton sesuai dengan urutan tadi,” jelasnya.
Baca Juga: Branding Jogja Sebagai Kota Wisata Makin Kuat Usai Penetapan Sumbu Filosofi Sebagai Warisan Dunia
Kanjeng Rinta menyebut, akan ada tiga Gunungan Kakung, peruntukannya masing-masing untuk Masjid Gedhe, Pura Pakualaman, dan Kepatihan. Sementara yang lainnya masing-masing berjumlah satu buah dan ikut dirayah di Masjid Gedhe, bersama dengan satu Gunungan Kakung.
“Penambahan dua Gunungan Kakung ini, dilakukan pada masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono X,” terangnya.
Menurutnya, Garebeg itu sendiri merupakan salah satu upacara yang hingga saat inirutin dilaksanakan oleh Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kata Garebeg, berasal dari Bahasa Jawa memiliki arti berjalan bersama-sama di belakang Ngarsa Dalem atau orang yang dipandang seperti Ngarsa Dalem.
“Sayuran serta palawija yang menjadi bahan dalam Gunungan melambangkan bahwa sejatinya kita adalah masyarakat agraris,” tambahnya.
Baca Juga: Pengembalian Fasad Beteng Keraton Konsekunesi dari Penetapan Sumbu Filosofi Jogjakarta
Lebih lanjut, sejak dimulainya rangkaian peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Keraton Yogyakarta memberlakukan no fly zone di Kawasan Keraton Yogyakarta. Artinya, masyarakat dilarang untuk menerbangkan drone dan sejenisnya 0-150 meter dari permukaan tanah (0-492 feet AGL).
Hal ini dilakukan guna mendukung kelancaran seluruh prosesi, sekaligus memberikan penghormatan terhadap jalannya Hajad Dalem dan ubarampe yang dibagikan sebagai perlambang sedekah raja.
Hal ini juga sesuai dengan Nomor NOTAM B1833/23 NOTAMN yang diterbitkan AirNav Indonesia. Sekilas Tentang Sekaten dan Gamelan Sekati Sekaten merupakan Hajad Dalem yang hingga saat ini rutin dilaksanakan Keraton Yogyakarta dari tanggal 5 sampai dengan tanggal 12 Mulud (Rabi’ul Awal).
Sekaten diselenggarakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ada pendapat yang menyatakan bahwa Sekaten berasal dari kata “sekati”.
Sekati merupakan seperangkat gangsa (gamelan) yang diyakini berasal dari Majapahit yang kemudian dimiliki oleh Kerajaan Demak dan dibunyikan selama pelaksanaan Sekaten.
Pendapat lain menyatakan bahwa Sekaten berasal dari kata “syahadatain” yang merupakan kalimat untuk menyatakan memeluk Islam.
Upacara Sekaten telah dilaksanakan sejak zaman Demak, kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Sekaten diselenggarakan sebagai salah satu dakwah untuk menyebarkan agama Islam. Proses Islamisasi ini juga tidak bisa dilepaskan dari usaha Wali Sanga dengan menggunakan sarana budaya dalam menjalankan dakwahnya.
"Wali Sanga menyadari penyebaran agama Islam tidak dapat dilaksanakan dengan paksaan. Karena itu dibunyikanlah seperangkat Gamelan Sekati agar masyarakat tertarik mendekat ke masjid dan mendengarkan dakwah dari para wali," imbuhnya. (wia)
Editor : Amin Surachmad