RADAR JOGJA - Beberapa waktu lalu, Kota Jogja baru saja mendapat tambahan kuota sampah yang dibuang ke TPA Piyungan di Bantul. Terbaru, Kota Jogja dapat kuota sampah sebanyak 135 ton per hari. Sementara sebelumnya hanya 100 ton dan 120 ton.
Meski kuota bertambah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja tetap cermat dalam melakukan perhitungan. Ini agar kondisi persampahan di Kota Jogja terkendali. Jangan sampai kondisi depo membludak atau kembali terjadi tumpukan sampah di tepian jalan.
Kepala DLH Kota Jogja Sugeng Darmanto menyebut, beberapa depo sampah belakangan terpantau mengkhawatirkan. Kondisi sampah, bahkan, meluber hingga ke jalan. Seperti yang terjadi di dua depo besar di Kota Jogja, yakni Depo Pengok dan Depo Mandala Krida.
"Yang paling mengkhawatirkan (depo) Pengok karena itu tanah Sultan dan dikelola PT KAI. Itu kan hampir mendekati jalan," kata Sugeng usai jumpa pers di Balai Kota Jogja, Selasa (19/8).
Sugeng menyebut, jika dieksekusi untuk dibawa ke TPA Piyungan luberan sampah di Depo Pengok saja sudah akan memenuhi hingga dua dam truk berkapasitas 7 ton. Sementara, jika seluruh sampah hingga ke dalam Depo Pengok diangkut akan membutuhkan setidaknya 5 dam truk. Artinya, kuota sampah di Depo Pengok sampai pada keadaan meluber adalah 35 ton.
"Tapi, yang saya bisa ambil di Depo Pengok itu paling banter hanya 10 ton, 2 dam truk. Karena sekali lagi, kita hanya dapat jatah 135 ton," ujar mantan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja ini.
Keterbatasan kuota sampah Kota Jogja yang diangkut ke TPA Piyungan ini, menjadikan DLH tak bisa hanya fokus membersihkan sampah di satu titik depo. Sugeng menyebut, pihaknya hanya mengambil sekitar 4 ton sampah atau satu truk setiap harinya. Meski demikian, dia memastikan ada keterwakilan dari masing-masing depo untuk diambil sampahnya.
"Paling tidak mengurangi. Itu kan psikologis terhadap sekitarnya. Saya ambil satu truk, kan lumayan (mengurangi)," katanya.
Selain di Depo Pengok, DLH Kota Jogja juga menemui tumpukan sampah di sekitaran SMAN 9 Jogja. Padahal, di sana bukanlah depo atau TPS. Bahkan, tumpukan sampah di dekat SMAN 9 Jogja itu terkumpul hingga memenuhi 5 unit compactor atau 35 ton.
"Saya santai saja, kalau truknya ada saya korbankan 5 kendaraan. Tapi, akibatnya depo yang lain jebluk, jalan jebluk, karena prinsipnya hanya berhitung dengan kuota dan kemampuan kita," kata Sugeng.
Pj Wali Kota Jogja Singgih Raharjo mendorong optimalisasi TPS skala kecil. Misalnya, yang telah terbangun di rusunawa ataupun di tingkat sekolah.
Menurut Singgih, TPS skala kecil ini punya peran untuk mereduksi sampah, meski tidak dalam jumlah yang signifikan.
Dia juga meminta masyarakat untuk benar-benar melakukan pemilahan sampah. Ini karena masyarakat masih sering mencampur sampah organik dan anorganik. Meskipun, itu dalam bentuk sampah organik yang dibungkus dengan sampah anorganik berupa plastik pembungkus.
Menurut Singgih, sampah yang telah terpilah itu akan membantu menyederhanakan proses pengolahan sampah.
"Sisa makanan pasti dibungkus dengan plastik bungkus makanan, sterofoam. Adanya sampah organik ada dibungkus anorganik, ini yang harus dipisah, diurai. Pemilahan sampah sangat penting untuk bisa mempercepat pengolahan sampah berikutnya," ungkap Singgih. (isa)
Editor : Amin Surachmad