RADAR JOGJA - Revitalisasi benteng (margi hinggil) Keraton Jogjakarta masih berlangsung. Revitalisasi diharapkan dapat menunjukkan fasad bangunan benteng yang saat ini sebagian tertutup dengan bangunan warga.
Benteng Keraton Jogjakarta tersebut terdiri dua lapis tembok. Lapisan dalam merupakan tembok cepuri. Tembok ini mengelilingi kawasan keraton.
Tembok lainnya lebih besar dan kuat. Benteng ini disebut dengan tembok baluwarti. Atau, selama ini sering disebut sebagai benteng.
Baca Juga: Beteng Keraton Jogja Sebagai Fungsi Pertahanan, Harusnya Ada Jalan Sampai Dua Meter untuk Keliling
Tembok Keraton Jogjakarta dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792). Sultan HB I adalah pendiri Keraton Jogjakarta.
Benteng Keraton Jogjakarta membentang dari timur ke barat dengan panjang 1.200 meter. Sepanjang 1,2 kilometer.
Sedangkan dari arah utara ke selatan sepanjang 940 meter. Benteng sisi timur diperpanjang ke utara sejauh 200 meter karena di sana ada kediaman putra mahkota.
Baca Juga: Meski Rada Gela, Warga Besar Hati Kembalikan Tanah ke Keraton Jogja Asal Ganti Untung Sesuai
Pada sisi luar benteng terdapat parit yang dalam dan jernih airnya. Parit itu disebut jagang, sisi luarnya diberi pagar bata setinggi satu meter. Pohon gayam ditanam sebagai peneduh di sepanjang jalan yang mengelilingi benteng.
Pada awalnya, benteng ini dibuat dari jajaran dolog (gelondongan) kayu. Lalu, diperkuat lagi hingga memiliki ketebalan dua batu (lebih kurang 55 cm) dengan longkangan selebar 2,4 meter yang diurug dengan tanah hasil galian jagang. Tinggi urugan 3,7 meter dari permukaan tanah awal.
Longkangan tersebut digunakan sebagai pelataran benteng bagian dalam di mana prajurit dapat berjaga. Dari pelataran ini tinggi benteng dinaikkan lagi 1,5 meter. Sedang dinding benteng dibuat dari batu bata yang diplester dengan campuran pasir, gamping, dan tumbukan bata merah.
Editor : Amin Surachmad