JOGJA, Radar Jogja - Gerakan Mengolah Limbah dan Sampah dengan Biopori Ala Jogja (Mbah Dirjo) menunjukkan progres yang cukup signifikan. Pada pertengahan Agustus beberapa waktu lalu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja mencatat ada 16 biopori aktif dengan berbagai ukuran. Jumlah itu diklain dapat mengurangi produksi sampah di Kota Jogja hingga 50 ton per hari.
Sementara itu, Kepala DLH Kota Jogja Sugeng Darmanto menyebut pada awal Agustus ini terjadi peningkatan. Kini jumlah biopori aktif di Kota Jogja mencapai 23 ribu.
“23 ribu titik itu mengurangi sampah hingga 64 ton perhari,” kata Sugeng, Selasa (5/9).
Sugeng menjelaskan pihaknya selalu mengupayakan gerakan Mbah Dirjo menjadi cara mengolah sampah di tingkat hulu. Bahkan, di sektor pariwisata, perdagangan, dan perkantoran juga telah menggunakan gerakan Mbah Dirjo dalam pengolahan sampahnya. Selain itu, ASN di lingkup Balai Kota Jogja yang berdomisili di Kota Jogja maupun luar Kota Jogja diminta membuat biopori.
“Kita mengevaluasi gerakan Mbah Dirjo yang sudah menyebar kisarannya sudah mencapai 23 ribu titik. Harapannya ini menjadi gerakan yang kuratif sehingga bisa mengurangi sampah di atas 50 ton,” ujarnya.
Sugeng menambahkan pada saat dibukanya TPA Piyungan tak lantas menjadikan porsi sampah yang boleh dibuang ke sana tak terbatas. Kota Jogja hanya diberi jatah membuang sampah di TPA Piyungan sebanyak 127 ton. Sedangkan, kini sampah yang dibuang ke TPA Piyungan mencapai 107 ton perhari.
“Karena konstruksinya tetap selesai pada Oktober, sehingga nanti di tanggal 6 (September) itu kita hanya dapat kuota sekitar 127 ton sehari,” tambahnya.
PjWali Kota Jogja Singgih Raharjo menyebut pertumbuhan jumlah biopori dari 16 ribu menjadi 23 ribu dalam kurun waktu satu bulan ini terbilang signifikan. Ini juga sejalan dengan temuan titik-titik pembuangan sampah ilegal yang kian hari kian berkurang.
Terbanyak terjadi pada 31 Agustus yang ditemui ada 29 titik pembuangan sampah ilegal. Jumlah ini turun hingga mencapai 21 titik pada 2 September lalu.
“Dikaitkan dengan program Mbah Dirjo yang secara masif kita lakukan kemudian juga edukasi terhadap masyarakat terus kita tingkatkan,” katanya. (isa)
Editor : Amin Surachmad