JOGJA - Pertunjukan Wayang Kethoprak Dongeng Ande-Ande Lumut sukses digelar di Monumen Serangan Umum 1 Maret di Kawasan Titik Nol Kilometer Jogja, Minggu malam (20/8/2023). Kethoprak wayang melibatkan pelbagai kalangan, mulai dari siswa SMP, SMK, hingga mahasiswa.
Produksi Wayang Kethoprak Dongeng Ande-Ande Lumut dipimpin oleh Tika Parikesit dengan Sutradara Brian Rangga Dhita. Naskah oleh Tedjo Suyanto. Sedangkan ide penggabungan kethoprak dan wayang diinisiasi oleh mantan Rektor UGM Sudjarwadi.
Tika Parikesit mengatakan pengabungan dua kesenian ini tujuannya untuk menarik minat generasi muda. Sehingga berkesenian tidak membosankan dan bisa sangat menyenangkan. Dia mengakui saat ini seni tradisional sangat susah masuk ke generasi muda.
"Gabungan karena pada kenyataannya Kethoprak masuk di generasi muda tidak gampang. Karena saat dikenalkan dan mereka suka, kemudian ada resisten dari teman-temannya, dipandang sesuatu aneh di-bully, dan itu fakta terjadi," jelasnya.
Kondisi ini sangat memprihatinkan sehingga menjadi pekerjaan rumah bersama. Tika mengkhawatirkan seni tradisional tidak lagi digemari di negara asalnya. Namun justru budaya asing masuk dengan mudah.
"Seni masuk ke generasi berikutnya ini memang tidak mudah jadi ini memang PR yang harus dilakukan karena memang, ya itulah seni tradisi harus jadi rumah di negaranya sendiri, ya. Karena mereka lebih kenal K-Pop," jelasnya.
Seni tradisional harus dilestarikan bukan hanya karena asli Indonesia. Namun ada banyak hal yang bisa diambil pada kesenian tradisional. Sebab tidak hanya berkutat pada pertunjukan bakat saja, tapi banyak nilai moral yang terkandung dari seni tradisional.
"Orang kalau belajar seni tradisi, dia kalau berbicara tidak kasar, secara tidak langsung diajari menghormati orang tua, berbicara yang baik," ujarnya.
Sementara itu pemilihan tema Ande-Ande Lumut karena dinilai sangat familiar dengan masyarakat. Sehingga bisa dengan mudah diterima. Apalagi, dongeng dan kethoprak memiliki nilai yang bisa dipelajari.
"Karena ada pembelajaran bahasa, unggah-ungguh, tembang, dan memasukkan tari sehingga pembelajaran seni budaya lebih kompleks," ujarnya.
"Dongeng hampir punah dan bagaimana anak-anak mengenal dengan cara menarik sehingga gak hanya mitos tapi mengambil hal-hal baik dari mitos itu," lanjutnya.
Salah satu pengunjung, Tari, 45, mengaku menonton bersama anaknya yang masih duduk di bangku kelas satu SMP. Dia mengatakan pentingnya mengenalkan seni tradisional kepada anaknya.
"Tadi agak susah mengajak karena main HP terus. Lalu saya beri pengertian sesekali harus paham kethoprak dan seni tradisional. Lalu dia mau ikut meski sempat wajahnya gak enak. Tapi, tadi tak perhatiin dia menikmati ketawa-ketawa," jelasnya. (lan)