700 Pengrawit Gaungkan Gamelan di Stadion Kridosono, Bawakan Landrang Santi Mulya Doa yang Selalu Dipanjatkan
Annissa Alfi Karin• Senin, 21 Agustus 2023 | 02:30 WIB
MULIA: Pengrawit memainkan gamelan bersama-sama dalam Gaung Gamelan tanda mulainya Yogyakarta Gamelan Festival ke-28, di Stadion Kridosono, Kota Jogja, kemarin (20/8). (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
JOGJA - Tujuh ratus pengrawit atau pemain gamelan dari 28 kelompok se-DIY tumpah ruah di Stadion Kridosono, Jogja, Minggu (20/8). Mereka kompak memainkan gamelan yang sekaligus menjadi pembuka gelaran Yogyakarta Gamelan Festival ke-28 (YGF28).
Festival gamelan berskala internasional ini merupakan wadah pertemuan antara pemain dan pecinta musik gamelan dari seluruh dunia.
Project Director YGF28 Ishari Sahida atau kerap disapa Ari Wulu menjelaskan, gelaran ini punya misi menyeleraskan diri dengan zaman tanpa kehilangan latar belakang budaya. YGF28 juga berupaya menciptakan media sebagai sarana berkumpul, berkomunikasi, dan berinteraksi bagi pecinta seni gamelan.
MULIA: Pengrawit memainkan gamelan bersama-sama dalam Gaung Gamelan tanda mulainya Yogyakarta Gamelan Festival ke-28, di Stadion Kridosono, Kota Jogja, kemarin (20/8). (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
"Ini adalah hal kecil yang coba kami tawarkan kepada teman-teman semua, bagaimana kemudian gamelan diamini, dibunyikan, ditabuh bersama-sama," katanya, Minggu (20/8).
Sebanyak 700 pengrawit memainkan dua gending secara bersama-sama. Di antaranya adalah Ladrang Prosesi dan Ladrang Santi Mulya. Menurutnya, Ladrang Santi Mulya mengandung doa-doa dan harapan manusia yang selalu dipanjatkan kepada Tuhan Yang Mahaesa. Ini juga menjadi pengharapan atas kekuatan untuk menghadapi masa-masa sulit.
"Semoga setelah kita membuktikan kedaulatan manusia ketika dua tahun mengalami masa pandemi, berikutnya kalau kita menghadapi masa-masa yang tidak menentu kuta bisa menghadapi semua itu bersama-sama," ujarnya.
Terbaru, YGF28 menghadirkan Gamelan Dinner di Pendopo Agung Royal Ambarrukmo pada 23 Agustus 2023. Program ini dibuat lagi-lagi untuk menyatukan para pecinta dan pemain gamelan. Namun, dikemas dalam acara makan malam bersama.
"Dalam Gamelan Dinner akan ada paparan rencana strategi kebudayaan yang akan dilakukan Gayam16 melalui kegiatan-kegiatan reguler. Rencananya, selain pecinta dan pemain gamelan, pengunjung dapat mengikuti Gamelan Dinner ini dengan reservasi terlebih dahulu," ungkapnya.
Salah seorang pengrawit asal Kalurahan Girikerto, Turi, Sleman Murwanto mengaku YGF28 menjadi perhelatan yang paling dia tunggu-tunggu. Meski terbilang singkat, kelompok karawitan Kalurahan Girikerto antusias berlatih. Mereka, bahkan, hanya latihan sebanya tiga hari lantaran mepetnya waktu persiapan.
MULIA: Pengrawit memainkan gamelan bersama-sama dalam Gaung Gamelan tanda mulainya Yogyakarta Gamelan Festival ke-28, di Stadion Kridosono, Kota Jogja, kemarin (20/8). (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
Meski demikian, Murwanto mengaku, tak ada kendala yang berarti. Ini karena dia dan anggota kelompok lainnya telah biasa tampil pada berbagai macam event.
"Pokoknya kemarin latihan siang malam, hari ini gayeng, rame. Kalau biasanya ada even dari Dinas Kebudayaan kami ikut karena kami sudah Desa Budaya," ujarnya.
Dia berharap, gelaran semacam ini bisa kembali digelar. Selain menjadi wujud nguri-uri gamelan, YGF28 juga bisa menjadi tontonan kebudayaan yang bermanfaat bagi masyarakat.
"Harapannya ya bisa digelar lagi, tapi dengan waktu persiapan yang lebih panjang. Ini terbilang mepet untuk waktu persiapannya," harapnya. (isa)