RADAR JOGJA - "Al heb ik een uitgesproken Westerse opvoeding gehad, toch ben en blijf ik in de allereerste plaats Javaan.”
"Meskipun saya memiliki pendidikan Barat yang jelas, saya dan akan tetap menjadi orang Jawa yang pertama dan terutama."
Itulah pidato yang dingkapkan Sri Sultan Hamengku Buwono IX saat jumenengan sebagai raja Keraton Jogja. Tanggal 18 Maret 1940.
Isi pidato HB IX tersebut menunjukkan kecintaannya terhadap bangsanya. Pernyataan tersebut membuat penjajah Belanda, yang saat itu menjajah, terkejut.
Ketika Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dibacakan Ir Soekarno di Jakarta, HB IX memantau dari Keraton Jogja melalui saluran radio dari siaran kantor berita Domei.
“Proklamasi kemerdekaan ini tidak akan hanya diucapkan dengan kata-kata saja, melainkan akan diwujudkan dengan perbuatan. Perbuatan perbuatan untuk membuktikan bahwa bangsa Indonesia tidak hanya ingin dan mau, akan tetapi juga dapat dan tahan memiliki kemerdekaan," jelas HB IX dalam bukunya Tahta Untuk Rakyat.
Kabar Proklamasi juga menyebar di berbagai daerah. Di antaranya, Bandung, Surabaya, dan wilayah di Sumatera.
Khusus di Jogjakarta, kabar proklamasi tersbut disampaikan dalam kutbah salat Jumat di Masjid Gedhe Kauman dan Masjid Pakualaman. Masyarakat pun menjadi tahu dan disambut dengan suka cita.
Selain itu, Ki Hadjar Dewantara juga aktif menyebarkan proklamasi kemerdekaan tersebut. Dia mengabarkan proklamasi dengan naik sepeda berkeliling ke berbagai tempat di Jogjakarta.
Editor : Amin Surachmad