RADAR JOGJA - Proses revitalisasi Benteng Keraton Baluwarti Jogjakarta dihebohkan dengan penemuan kerangka manusia. Namun, Dinas Kebudayaan DIJ belum dapat memastikan dari mana asal muasal penemuan tengkorak manusia itu.
Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan, tidak mengetahui pasti dari mana kerangka jenazah tersebut. "Itu benar-benar nggak bisa njelaske e blas (tidak bisa sama sekali menjelaskan, Red). Saya nggak punya atau info apa-apa,” katanya ditemui di Kompleks Kepatihan Selasa (8/8/23).
Meski begitu, Dian menjelaskan di area penemuan kerangka manusia itu dahulunya juga terjadi Perang Geger Sepehi. Yaitu peristiwa penyerbuan Keraton Jogjakarta yang dilakukan oleh Inggris pada tanggal 19-20 Juni 1812 untuk menggulingkan Sultan Hamengkubuwana II yang menolak bekerjasama.
Nama Sepehi berasal dari pasukan Sepoy yang dipekerjakan oleh Inggris untuk menyerang keraton. "Karena ini proses ratusan tahun. Perang geger Sepehi juga di area situ. Dan dulu ada Gapura Gadyasuro, yang jadi gapurane ki tumpukan mayat-mayat waktu geger sepehi tahun 1800 an itu," ujarnya.
Proyek revitalisasi Benteng Keraton Jogjakarta itu sejatinya sudah lama direncanakan. Bahkan kajian revitalisasi beteng ini sudah dilakukan sejak 2015 silam. "Pemeliharaan kan sudah cukup lama tapi upaya mengutuhkan kembali kajian baru dilakukan 2015 untuk menguatkan otentisitasnya," jelasnya.
Revitalisasi itu bertujuan untuk penguatan kembali bentuk asli dari Benteng Baluwarti Keraton Jogjakarta. Agar beteng yang menjadi penanda itu bisa terlihat bentuknya. "Karena ketika dia jadi penanda kan tidak kelihatan benteng kecuali pojok, bastion, kemudian plengkung itu. Padahal makna utama benteng itu yang kemudian tidak tertangkap sebagai penanda kota, yang kelihatan hanya pojok pojok penanda itu," terangnya.
Ketua RT 55 RW 14 Panembahan Suharti menceritakan dulu di sekitar tempat yang sedang dibangun beteng itu adalah sebuah tegalan yang berikan pohon pisang dan ketela."Mungkin dulu pada saat perang ada yang meninggal kan tidak mungkin keluar beteng terus dimakamkan di luar beteng. Jadi pas gugur langsung dimakamkan di situ," ujarnya.
Menurut Suharti kerangka tengkorak manusia yang kemarin ditekukan itu adalah kerangka dari para prajurit Jogja. Suharti membeberkan dulu sekitar 1970 an di tempat penemuan kerangkan tersebut pada dibangun rumah-rumah. Pada saat membuat pondasi itu juga ada yang menemukan tulang-tulang. "Tulang-tukang itu kata simbah saya dulu adalah mayat-mayat dari peperangan," katanya.
Warga yang lain Murjono (64) salah satu warga Mangunegaran Kidul juga menceritakan saat kecil ia sering didongengin oleh simbahnya. Lokasi penemuan kerangka tengkorak itu dulu dinamakan Plengkung Buntet. Plengkung Buntet adalah semacam terowongan seperti Plengkung Wijilan yang dulu pernah dibobol oleh pasukan Inggris lalu pintunya ditutup."Dulu tanah di sana tinggi," ungkapnya.
Dosen Filsafat Mataram Universitas Widya Mataram Yogyakarta Heru Wahyu Kiswoyo menyebut, tempat penemuan kerangka manusia itu dulu adalah tempat saat terjadi Geger Sepoy atau Sepehi.
Pada saat itu pasukan Inggris berada di depan Kagungan Dalem (depan Gedung Agung) yang kemudian diinformasikan oleh Paku Alam I atau Notokusumo kalau daerah Timur kosong. Dan akhirnya beteng yang timur itu kebuka dan pasukan Inggris masuk, lalu menjarah masuk sampai tiga kapal.
Namun pada saat itu, panglima dari perang itu keplayon atau terdesak mundur dan lari sampai ke Gading lalu dipotong-potong."Akhirnya banyak prajurit dari kita yang meninggal di sana," katanya
Heru menambahkan Benteng Baluwarti merupakan saksi bisu terjadinya peristiwa Geger Sepoy yang terjadi pada 19-20 Juni 1812. Pada saat itu bala tentara Inggris yang saat itu menguasai Jawa menyerang Keraton Jogjakarta.
Pasukan Inggris di bawah komando Kolonel James Watson berhasil meledakkan gudang mesiu yang berada di Pojok Beteng Timur Laut. Perang ini juga membuat Plengkung Madyasura ditutup secara permanen sebagai bagian dari strategi pertahanan, setelah sebelumnya pihak Keraton Jogjakarta mendengar bahwa pasukan musuh berencana masuk melalui plengkung tersebut.
"Akibat ledakan yang dahsyat tersebut, sekarang ini benteng Baluwati hanya menyisakan tiga bastion, yakni Pojok Beteng Wetan, Pojok Beteng Kulon, dan Pojok Beteng Lor (sekarang depan taman parkir Ngabean)," bebernya.
Puncak serangan pasukan koalisi kerajaan Inggris (prajurit Sepoy dan Inggris) terhadap Kertaon Jogjakarta adalah pada hari kedua, 20 Juni 1812. Ketika fajar menyingsing prajurit -prajurit Inggris, dan Sepoy, dan juga orang-orangnya Pangeran Notokusumo menyebar mengepung tembok keraton. Beberapa dari mereka berhasil masuk benteng Baluwarti dengan menggunakan tangga bambu yang telah disiapkan oleh Kapiten Cina, Tan Jin Sing, tokoh masyarakat Tionghoa yang sangat mendukung serbuang Inggris."Sikap itulah yang kelak menimbulkan sentimen anti-Tionghoa yang sangat kuat di Jogjakarta. Akibat serangan ini, Sultan Hamengkubuwono II ditangkap dan ditawan oleh Inggris," tandasnya. (ayu/wia/din)
Editor : Satria Pradika