RADAR JOGJA - Desain Benteng Keraton Yogyakarta istimewa. Didesain oleh Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Bahkan, desainnya beda dengan benteng kerajaan-kerajaan Islam yang sudah ada sebelumnya.
Dikutip dari keratonjogja.id, perbedaannya tampak pada gerbang-gerbang yang tersebar dalam segala penjuru. Tampaknya, Pangeran Mangkubumi belajar banyak dari jatuhnya ibukota Mataram-Kartasura ke tangan pemberontak pada peristiwa Geger Pacinan pada (1740-1743).
Baca Juga: Temukan Tengkorak di Proyek Revitalisasi Benteng Keraton Jogja
Ketika peristiwa tersebut terjadi, pemberontak Cina dan Jawa bergabung melawan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Belanda. Lantas, mereka menyerbu. Mereka merebut Keraton Kartasura karena memandang bahwa Sri Susuhunan Paku Buwono II (1727-1747) memihak VOC.
Ditilik dari modelnya yang mirip dengan benteng-benteng Eropa, kemungkinan besar Benteng Keraton Jogja meniru sistem perbentengan Belanda di Batavia. Model itu sempat diamati oleh Patih KadipatenMas Tumenggung Wiroguno selama kunjungannya ke sana pada awal 1780-an.
Awalnya, tembok Baluwarti berupa pagar dari kayu. Itu merupakan bagian paling akhir yang diselesaikan oleh Pangeran Mangkubumi. Benteng ini selesai dibangun pada tahun Jawa 1706 atau tahun 1782 Masehi.
Baca Juga: Kokoh Berdiri Lebih Dua Abad, Benteng Keraton Jogja Dibangun HB I
Pembangunan benteng dipimpin Bupati Madiun R. Rangga Prawirasentika. Pembangunan kemudian dilanjutkan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom, yang di kemudian hari bertakhta sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono II.
Sri Sultan Hamengku Buwono II masih memperkuat lagi benteng keraton padamasa pemerintahannya. Sultan HB II merasa ketegangan dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda semakin meningkat dan peperangan akan segera terjadi.
Sultan HB II kemudian memanfaatkan kehadiran rombongan pekerja yang datang saat acara Garebeg Puasa untuk memperkuat pertahanan keraton. Pada 13 November 1809, keempat sudut benteng dibuat menonjol keluar.
Baca Juga: Benteng Baluwerti Miliki Lima Pintu, Dikelilingi Empat Bastion
Keempat sudut benteng ditambah dengan bangunan baru sehingga berwujud segi lima. Pada ketiga sudut yang menjorok keluar diberi semacam sangkar sebagai tempat penjagaan yang disebut sebagai bastion.
Bentuknya seperti tabung dengan lubang-lubang kecil untuk mengintai. Pada dinding antar bastion diberi longkangan sebanyak sepuluh buah sebagai tempat memasang meriam.
Bangunan baru itu disebut juga sebagai Tulak Bala. Kini lebih dikenal dengan sebutan Pojok Beteng. Atau, biasa disingkat sebagai Jokteng.
Baca Juga: Kembalikan Keutuhan Fisik Benteng Baluwerti
Salah satu sudut benteng ini hancur saat peristiwa Geger Sepehi pada 20 Juni 1812. Bala tentara Inggris, yang saat itu menguasai Jawa, menyerang Keraton Jogjakarta.
Mereka meledakkan gudang mesiu yang berada di Pojok Beteng sebelah timur laut. Perang ini juga membuat Plengkung Madyasura ditutup permanen. Penutupan itu sebagai bagian strategi pertahanan. Sebab, sebelumnya pihak Keraton Jogjakarta mendengar kabar pasukan musuh berencana masuk melalui plengkung tersebut.
Pintu masuk ke dalam benteng di sisi timur baru dibuka lagi pada 1923 dengan dibongkarnya Plengkung Madyasura atas perintah Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939).
Sejak masa pemerintahan Sultan HB VIII ini pula plengkung tidak pernah ditutup lagi. Bahkan, demi memperlancar lalu lintas, Plengkung Jagasura dan Plengkung Jagabaya dirombak menjadi gapura terbuka.