JOGJA - Sebagai upaya merespons adanya kedaruratan sampah, Pemerintah Kabupaten Bantul menggerakkan program pemberdayaan masyakat berbasis padukuhan. Bantuan anggaran Rp 50 juta tiap padukuhan, bisa untuk proses pemilahan sampah yang dilakukan di tingkat padukuhan.
Bupati Kabupaten Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan, adanya kedaruratan sampah ini Bantul merespon dengan mempercepat proses pemilahan sampah di tingkat padukuhan. "Di Bantul ada anggaran Rp 50 juta per padukuhan yang disebut program pemberdayaan masyarakat berbasis padukuhan," katanya ditemui di Kompleks Kepatihan Jogja Kamis (27/7).
Halim menjelaskan anggaran itu bisa dimanfaatkan di antaranya untuk pengelolaan sampah tingkat padukuhan. Dengan pemilahan sampah sejak dari padukuhan bahkan sejak dari rumah tangga, dinilai akan terjadi pengurangan timbunan sampah yang dibuang ke Piyungan.
Bantul juga menyiapkan TPST baru, berada di empat lokasi meliputi Modalan, Niten, Giwosari dan Murtigading. "Kalau ini berjalan insyallah Bantul tidak lagi membuang sampah di Piyungan," ujarnya.
Pihaknya sedang menghitung kapasitas daya tampung masing-masing TPST tersebut untuk mengetahui apakah sampah berasal dari Kota Jogja bisa tertampung di sana. Ke empat TPST itu masih disiapkan dan berproses semuanya. Seperti TPS Modalan Banguntapan dan Niten Pandowoharjo.
"Kemudian yang sudah ada di Guwosari akan kita dukung karena itu milik kalurahan, di Panggungharjo juga akan kita dukung pengembangannya dan Murtigading sedang kita kembangkan," jelasnya.
Dia menyebut, selama ini Bantul menampung sampah dari tiga daerah. Di samping dari Bantul, juga Sleman dan Kota Jogja. Sampah Kota Jogja diharapkan tak hanya dibuang ke Bantul melainkan bisa sharing dengan Sleman dan Kulon Progo. "Setidaknya Sleman dan Bantul diharapkan mandiri, kapasitasnya membantu Kota, Sleman juga ikut membantu," terangnya.
Namun, pada prinsipnya untuk menyikapi kondisi darurat ini masing-masing rumah tangga harus bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan sendiri. Seperti sampah plastik, logam kaca bisa dikumpulkan karena sudah ada pengepul yang membeli dan didaur ulang.
Menurutnya, ketika setiap rumah tangga melakukan pemilahan sampah maka 80 persen masalah sampah akan selesai. "Tinggal kita memikirkan bagaimana sampah organik. Sampah organik selama ini ditimbun, tetapi harus dipastikan yang ditimbun hanya sampah organik," tambahnya.
"Nenek moyang mbah mbah kita selama ini bikin jugangan yang bersifat sementara, dan harus hanya organik saja," tambahnya. (wia)
Editor : Amin Surachmad