RADAR JOGJA - Susuhunan Amangkurat II baru saja menempati istana baru. Ibu kota negara (IKN) Mataram resmi dipindah. Dari Pleret ke hutan Wanakerta. Sejak menjadi IKN Mataram, Amangkurat II meneken keputusan raja (kepraja) tentang nama baru Wanakerta menjadi Kartasura Hadiningrat.
IKN Kartasura merupakan kelanjutan dari ibu kota Mataram yang sebelumnya berpusat di Pleret. Pemilihan hutan Wanakerta yang tidak jauh dari pusat Kerajaan Pajang sesuai ramalan kakek Amangkurat II, Pangeran Pekik.
Penguasa Kadipaten Surabaya itu pernah bermimpi didatangi raja Pajang Sultan Hadiwijaya. Kejadiannya saat Pekik tetirah di makam Hadiwijaya di Desa Butuh, Sragen, Surakarta. Saat itu dalam perjalanan dari Surabaya ke Mataram. Pekik mengaku mendapatkan wangsit.
“Ki Pekik, wruhananmu, kowe besuk duwe putu lanang, jumengeng ratu gedhe, kedhaton ana ing alas Wanakerta, kaprenah sakuloning Pajang, abebala bacingah jejuluk Sunan Amangkurat,”.
Artinya kurang lebih sebagai berikut. “Wahai Pekik, ketahuilah kelak engkau mempunya cucu laki-laki, bertakhta sebagai raja besar, istananya di Hutan Wanakerta, di barat Keraton Pajang, dia akan punya wadyabala orang halus, bergelar Sunan Amangkurat,”.
Wangsit yang diterima Pekik itu terbukti. Cucunya yang bernama Raden Mas (RM) Rahma menjadi raja besar Mataram. Cucu Pekik membangun IKN Mataram yang lokasinya tak jauh dari keraton Jaka Tingkir sewaktu menjadi raja Pajang.
Sukses Amangkurat II menjadi raja tak bisa dilepaskan dari peran Vereenigne Oostindische Compagnie (VOC) yang ikut menumpas Trunajaya dan kawan-kawan. IKN yang dibangun Sunan Amral, gelar lain dari Amangkurat II tidak dapat dipisahkan dari kontribusi Kompeni.
Kongsi dagang Belanda itu tampil layaknya pemodal alias investor. Perang melawan Trunajaya membuat Amangkurat II berutang ke VOC. Begitu pun saat membangun IKN Kartasura. Beberapa kali raja meneken perjanjian. Kompeni mendapatkan banyak konsesi. Di antaranya, hak monopoli pembelian beras dan gula. Hak monopoli impor tekstil dan candi serta pembebasan cukai.
Amangkurat II berkepentingan agar investasi VOC di Mataram berjalan lancar. Saat meresmikan Istana Kartasura pada 11 September 1680, Sunan Amral memberikan penegasan soal tersebut. Dia berpidato di depan para pembesar Mataram dan VOC dalam sebuah jamuan makan malam. Isinya, Amangkurat II menegaskan visi Mataram di bawah kepemimpinnya.
Dia memberikan keleluasaan VOC berinvestasi. Pemerintahannya berjanji memberikan sejumlah kemudahan. Raja bertekad bertindak tegas siapa pun yang tidak setuju. Amangkurat II akan menghajar mereka yang mencoba menghalangi.
Investasi VOC dibutuhkan. Dengan investasi itu membuka banyak peluang usaha. Tercipta lapangan kerja bagi rakyat. Karena itu, berbagai pranatan dan angger-angger atau aturan mendukung cipta kerja di IKN Mataram yang baru itu.
Investasi VOC dibutuhkan untuk membangun infrastruktur. Kartasura dibuat lebih modern dibandingkan saat ibu kota di Kotagede, Kerta, maupun Pleret. VOC merasa senang mendengar visi Amangkurat II tersebut.
Meski situasi relatif terkendali, Amangkurat II masih punya pekerjaan rumah (PR) terkait Pangeran Poeger. Adik tiri raja ini tidak kunjung bersedia mengakui kepemimpinan kakaknya. Poeger tetap ngotot jumeneng menjadi raja bergelar Susuhunan Ing Ngalaga. Poeger menggunakan Pleret sebagai pusat pemerintahannya.
Poeger beralasan dirinya menerima mandat dari ayahnya, Sunan Amangkurat I. Mandat itu berupa pemberian pusaka keraton tombak Kanjeng Kyai Ageng (KKA) Pleret dan keris KKA Mahesanular. Kedua pusaka diberikan saat istana Pleret jatuh ke tangan Trunajaya pada Mei 1677. Pemberian berlangsung di pesanggrahan Desa Lesmana, Ajibarang, Banyumas.
Menyelesaikan masalah dengan Poeger, Amangkurat II mengirimkan pasukan gabungan Mataram dan VOC menyerbu Pleret. Perang suksesi terjadi antara dua pangeran yang sama-sama mendeklarasikan menjadi Sunan Mataram.
Poeger meyakini dengan kesaktian dua pusaka dari leluhurnya. Sebaliknya, Amangkurat II lebih mempercayakan kepada pemodal asing demi memperkuat kekuasaannya. Dalam perang yang berlangsung 1681, Poeger tergusur dari Pleret. Poeger harus mengakui keunggulan Amangkurat II. Investor asing lebih digdaya dibandingkan kekuatan pusaka warisan leluhurnya. (pra)
Editor : Editor Content