Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bu Ratu, Politisi Tangguh, Ahli Strategi, dan Mediasi

Editor Content • Senin, 8 Mei 2023 | 13:00 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Kebijakan Sayidin yang beringas setelah bertakhta sebagai Amangkurat I membuat banyak pihak merasa waswas. Nyaris semua kubu oposisi telah dihabisi. Ras cemas itu sekarang justru menimpa para pendukung raja. Mereka khawatir Sayidin sewaktu-waktu bertindak nekat. Tidak mengenal lawan atau kawan. Semua bisa mengalami hal sama. Dieksekusi tanpa ampun sedikit pun.


Perasaan itulah yang dialami Pangeran Purbaya. Paman Amangkurat I selama beberapa minggu tidak terlihat di Istana Mataram. Purbaya tak datang dalam beberapa kali rapat kabinet. Ketidakhadiran kepala Badan Intelejen Mataram (BIM) merangkap kepala Dinas Bhayangkara Mataram itu menimbulkan berbagai tanda tanya. Apalagi absennya Purbaya itu tanpa keterangan.


Mangkirnya Purbaya dari kegiatan resmi istana itu menimbulkan beragam spekulasi. Ditambah muncul berbagai laporan terkait aktivitas kegiatan militer di kediaman pangeran senior itu. Setiap hari, Purbaya melatih bela diri sejumlah pemuda. Jumlahnya mencapai ratusan. Mereka dilengkapi persenjataan yang lengkap.


Pergerakan di Ndalem Purbayan itu tak pelak memunculkan kecurigaan. Ada isu tak sedap. Purbaya sedang menyiapkan kraman  alias pemberontakan. Lambat laun Amangkurat I tahu dengan semua itu. Raja menyiapkan operasi menangkap Purbaya bersama keluarganya yang berjumlah 50 orang.


Saat rencana itu hendak dijalankan, Ibu Suri muncul. Permaisuri mendiang Susuhunan Agung Hanyakrakusuma tersebut tak ingin terjadi pertumpahan darah di Mataram. Permaisuri yang terkenal dengan sebutan Ratu Batang itu berupaya tidak ada tindakan keras dari istana terhadap Purbaya.


Ratu Batang menganggap kejadian tewasnya Pangeran Alit di Alun-Alun Keraton Pleret tak boleh terulang. Darah tak boleh tercecer. Sudah cukup, beberapa oposisi Amangkurat yang dihabisi. Mulai Tumenggung Wiraguna, Tumenggung Danupaya dan Tumenggung Asmaradana. Mereka adalah para pejabat yang berjasa bagi Mataram sejak era ayah Amangkurat I, Sunan Agung Hanyakrakusuma.


Ibu Suri akhirnya bertindak sebagai juru mediasi antara Purbaya dengan putranya. Melihat sedikit ke belakang, sukses Sunan Agung Hanyakrakusuma memimpin Mataram  tidak dapat dilepaskan dari sosok Ratu Batang. Dia putri Adipati Batang Upasanta. Karir Upasanta di Mataram adalah seorang perwira tinggi militer. Dia berpengalaman dalam beberapa operasi penaklukan.


Sebagai putri pejabat militer, karakter Ratu Batang ikut terbentuk. Figurnya dikenal keras dan tegas. Bahkan sedikit tomboy. Tapi semanak. Biasa bicara ceplas-ceplos. Pejabat-pejabat Mataram sering kena semprot.  Ini membuat banyak petinggi kerajaan merasa keder  bertemu Kanjeng Ratu atau Bu Ratu,  begitu dia akrab disapa.


Selain putri adipati, Ratu Batang dikenal ahli strategi. Seorang wanita karir dan politisi perempuan tangguh.  Dia punya banyak usaha di daerah asalnya. Dia eksporter mebel dari Jepara, rotan, dan pemilik aneka usaha pertanian. Ratu Batang punya wawasan yang luas. Dia biasa bertemu duta-duta negara asing saat mendampingi ayahnya. Ratu Batang hobi mengadakan kunjungan kerja ke berbagai daerah. Bahkan belanja aneka barang ke mancanegara.


Perannya di Mataram semakin kuat saat Sunan Agung mereposisi kedudukan permaisuri. Awalnya kedudukan Ratu Batang adalah permaisuri kedua atau Ratu Wetan. Permaisuri utama ditempati Ratu Kulon dari Cirebon. Namun belakangan terjadi konflik antara raja dengan putri Cirebon. Ratu Kulon dikebonake alias dikeluarkan dari keraton. Posisinya digantikan Ratu Batang.


Kembali ke konflik Purbaya dan Amangkurat, Ratu Batang berinisiatif mempertemukan paman dan keponakan itu di makam Imogiri. Tempat bersemayamnya jasad Sunan Agung. Pertemuan di makam Sunan Agung itu berhasil mencairkan suasana yang beku.


Purbaya di depan kakak iparnya bersedia luluh. Purbaya berlutut dan mencium kaki raja. Sikap itu melunakan hati Amangkurat. Dia berkata tidak akan menghabisi Purbaya dan keluarganya. Raja bersedia memaafkan pamannya. Dia minta pamannya kembali aktif menjalankan tugasnya. (laz)
Editor : Editor Content
#Cerbung #Kusno S. Utomo #masjid mataram