Pasar-pasar dan pusat perbelanjaan yang selama ini menjadi jujugan sepi pembeli. Rakyat yang biasanya merayakan hari besar pascapuasa dengan melancong ke beragai tempat memilih tinggal di rumah.
Tetangga Mataram, Kerajaan Banten selama lima bulan sepertiga penduduknya dilaporkan meninggal. Hal sama terjadi di negara sahabat Mataram, Kerajaan Cirebon. Sebanyak dua ribu orang warganya mati. Begitu pula di Kendal, Tegal, Jepara hingga Surabaya. Orang yang meninggal tidak lagi bisa dihitung.
Kebanyakan disebabkan karena penduduk terserang penyakit di paru-paru yang menyebabkan sesak napas. Dampaknya dalam satu jam saja dapat meninggal. Kementerian Kesehatan Mataram mengumumkan terjadinya pageblug nasional. Warga diminta tetap berada di rumah. Demi mencegah situasi lebih parah, aktivitas warga dibatasi.
Tahun 1626 penyakit masih merajalela. Di berbagai lokasi, dua pertiga penduduk meninggal karena penyakit luar biasa itu. Diawali batuk-batuk kemudian menyerang pernapasan. Banyak penduduk menghembuskan napas terakhir karena wabah. Penyakit berat dan menular itu merongrong kesejahtearan dan kekuatan rakyat.
Menyikapi itu, Pemerintah Kerajaan Mataram berupaya membantu kesulitan rakyat. Berbagai bantuan pangan dibagikan. Ini dalam rangka mengurangi kesulitan. Namun situasi berat belum juga lepas.
Wabah semacam itu kembali menyerang Mataram pada 1646. Susuhunan Agung Hanyakrakusuma dua tahun sebelumnya mendapatkan wisik. Dia didatangi penguasa laut selatan Kanjeng Ratu Kidul. Raja mendapatkan petunjuk kematiannya telah dekat.
Tak lama kemudian Sunan Agung jatuh sakit. Hasil pemeriksaan tim kesehatan Kerajaan Mataram menyimpulkan, raja terkena sakit karena wabah. Namun raja yang bertakhta selama 32 tahun itu menolak minum obat. Kesehatannya semakin menurun. Sunan Agung wafat pada pertengahan Februari 1646. Penyebabnya karena wabah yang menyerang Mataram.
Dalam keadaan sakit, raja mengumpulkan sejumlah orang dekatnya. Sunan Agung berupaya mengantisipasi kisruh suksesi antara putra mahkota Raden Mas (RM) Sayidin atau Pangeran Harya Mataram melawan saudaranya Pangeran Alit.
Raja tak begitu percaya dengan kakak sulungnya Pangeran Purbaya. Dia memanggil Panglima Tentara Nasional Mataram (TNM) Tumenggung Wiraguna dan besan sekaligus iparnya Pangeran Pekik dari Surabaya. Sejak beberapa waktu Sunan Agung meng-endorse Sayidin. Pilihan sebagai pewaris takhta jatuh ke Sayidin.
Raja yakin di tangan Sayidin berbagai program mercusuar kerajaan dapat dilanjutkan. Misalnya rencana membangun dan memindahkan ibu kota kerajaan dari Kerta ke Pleret. Berbagai infrastruktur calon ibu kota baru telah disiapkan. Sayidin menjadi pilihan terbaik dibandingkan putra-putra Sunan Agung lainnya. Endorsement yang dilakukan raja diyakini tidak akan sia-sia.
Wiraguna dan Pekik diminta sumpah setia mendukung Sayidin. Tumenggung Wiraguna memerintahkan sebagian besar pasukan pengamanan raja (Paspamraja) bersiaga 24 jam di istana. Semua meriam dan gudang senjata dijaga.
Di bawah pengawalan ketat, kenaikan takhta Sayidin diumumkan ke rakyat. Gelarnya Susuhunan Amangkurat Senopati Ingalaga Mataram. Gerbang-gerbang kerajaan dibuka kembali. Upacara pemakaman raja kemudian digelar. Diadakan penghormatan secara militer. Mataram dinyatakan berkabung secara nasional.
Waktunya selama seminggu. Rakyat Mataram bersedih. Jenazah Sunan Agung dibawa dengan kereta dan dimakamkan di Pajimatan Imogiri. Makam yang didesainnya sejak lama. Sunan Agung menjadi raja Mataram pertama yang dikebumikan di Gunung Merak tersebut. (laz) Editor : Editor Content