Angka ini, menurutnya, mengalami kenaikan sekitar 28 ton. Sebagai perbandingan volume sampah pada hari biasa sebelum liburan sebesar 238 ton per hari.
“Kami memaklumi apa yang terjadi terkait dengan peningkatan volume sampah yang ada karena memang peningkatan jumlah pemudik juga mengalami peningkatan dari tahun-tahun yang lalu,” jelas Haryoko ditemui di Kantor DLH Kota Jogja, Kamis (27/4).
Dia menyebut produksi sampah paling banyak muncul dari lokasi-lokasi wisata. Banyaknya sampah juga sejalan dengan banyaknya jumlah wisatawan maupun pemudik yang beraktivitas di Jogjakarta. Sehingga peningkatan produksi sampah selama libur lebaran kali ini masih terbilang terkendali.
Dia mencontohkan sampah yang timbul di kawasan Malioboro tercatat rata-rata hanya sebanyak 12 ton per hari. Jumlah ini sudah dikurangi oleh pemilahan sampah yang dilakukan oleh petugas kebersihan dibawah Disbud Kota Jogja. Berupa sampah anorganik sehingga masih bisa dikelola oleh petugas kebersihan.
“Jika dibandingkan saat libur lebaran tahun lalu volume sampah terbilang menurun. Peningkatan volume sampah saat itu bahkan menyentuh 100 ton per hari. Sementara libur lebaran tahun ini hanya meningkat sebanyak 28 ton per hari,” katanya.
Volume sampah saat libur lebaran kali ini juga masih lebih sedikit. Dengan data perbandingan produksi sampah pada Januari 2023. Tercatat pada medio waktu tersebut mencapai 290 ton per hari.
Menurut Haryoko, terkendalinya kondisi sampah di Kota Jogja disebabkan oleh masifnya penerapan gerakan zero sampah anorganik. Termasuk peran bank sampah dalam melakukan pengelolaan sampah anorganik. Diimbangi dengan sosialisasi rutin kepada masyarakat.
“Kemarin banyak bank sampah yang melakukan sosialisasi bukan hanya kepada warga yang datang tapi juga pengunjung-pengunjung yang ada di Malioboro itu juga mendapat edukasi yang sama,” ujarnya.
Haryoko menuturukan ada 320 petugas yang disiagakan. Seluruhnya dinilai sudah terbiasa menghadapi situasi-situasi padat seperti saat lebaran maupun libur nataru.
Pihaknya juga menyiagakan satgas penyapuan jalan dan pembersihan sampah. Fokusnya melakukan pembersihan di sepanjang kawasan sumbu filosofis.
“Kami siapkan di beberapa lokasi yang terbilang rawan. Artinya dilakukan pembuangan sampah liar. Untuk yang tempat wisata karena kebanyakan berada di lokasi sumbu filosofis ranahnya ada di Dinas Kebudayaan. Kami hanya berkoordinasi saja,” katanya. (isa/dwi) Editor : Editor News