Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Numplak Wajik, Mengawali Prosesi Garebeg Syawal Keraton Jogjakarta

Editor News • Kamis, 20 April 2023 | 03:55 WIB
ADAT : GKR Mangubumi memimpin langsung prosesi Numplak Wajik di Panti Pareden Magangan Karaton Ngayogyakarta Hadingrat, Rabu (19/4). (DWI AGUS/RADAR JOGA)
ADAT : GKR Mangubumi memimpin langsung prosesi Numplak Wajik di Panti Pareden Magangan Karaton Ngayogyakarta Hadingrat, Rabu (19/4). (DWI AGUS/RADAR JOGA)
RADAR JOGJA - Prosesi adat Numplak Wajik kembali digelar setelah tiga tahun absen. Prosesi ini juga sebagai penanda dimulainya Garebeg Syawal. Berupa pembuatan lima jenis gunungan dari berbagai bahan baku kekayaan bumi dan makanan tradisional.

Penghageng KHP Datu Dana Suyasa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat GKR Mangkubumi menuturkan ada tujuh gunungan dalam Garebeg Syawal tahun ini. Seluruhnya akan diarak menuju Masjid Gedhe Kauman pada Sabtu pagi (22/4). Diawali dengan prosesi doa sebelum akhirnya diperebutkan oleh warga.

“Ini bagian dari persiapan buat gunungan besok, mau ada garebeg sudah tiga tahun absen dan ini mulai lagi. Kita punya garebeg di 22 pagi (22 April 2003). Ada tujuh gunungan,” jelasnya ditemui usai memimpin prosesi Numplak Wajik di Panti Pareden Magangan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Rabu (19/4).

Putri sulung Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10 ini menuturkan gunungan berisikan berbagai macam hasil bumi. Adapula jajanan tradisional seperti wajik dan rengginang. Prosesi inti dari upacara ini adalah menata wajik sebagai landasan dari gunungan.

Permainan gejog lesung oleh abdi dalem keparak mengawali proses numplak wajib gunungan. Delapan abdi dalem perempuan memainkan lesung secara berirama. Alunan musik kayu ini juga menjadi pertanda GKR Mangkubumi telah tiba di Magangan.

Prosesi dilanjut dengan berdoa yang dipimpin abdi dalem kaji. Selanjutnya abdi dalem konco abang memapah wajik menuju kerangka gunungan puteri. Berlanjut dengan pengolesan dinglo bengle oleh abdi dalem perempuan.

“Prosesi hari ini detilnya itu apa namanya bagian dari membuat gunungan. Dalamnya ada wajik ada rengginang. Itu salah satu contoh untuk kita mulai mengadakan garebeg,” katanya.

Selama proses pembuatan gunungan, gejog lesung tidak berhenti. Prosesi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Terbukti puluhan warga sudah memadati kawasan Magangan sejak sore hari.

Setelah prosesi selesai, para abdi dalem kemudian mengoleskan dinglo bengle. Berupa parutan empon-empon berwarna kuning. Warga yang berada di luar Panti Pareden banyak yang meminta agar bisa mendapatkan ramuan ini. Ada yang dioleskan ke anak hingga dibawa pulang.

“Saat garebeg tiba, gunungan akan dibawa ke Masjid Gede Kauman untuk didoakan. Lalu ada yang dibagi ke masjid, kantor Kepatihan dan Puro Pakualaman,” ujarnya.

Total ada 10 Bregada Prajurit Karaton yang akan mengawal gunungan Diantaranya Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Ketanggung, Mantrijero, Nyutra, Bugis, dan Surakarsa.

Sementara untuk gunungan ada lima jenis. Diantaranya Gunungan Kakung, Gunungan Estri atau Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Dharat, dan Gunungan Pawuhan. Khusus untuk Gunungan Kakung Ada tiga.

“Makna garebeg tanda kasih dari Ngarso Dalem (Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10 kepada masyarakat. Ya diperebutkan tapi didoain dulu jangan direbut. Jangan di tengah jalan langsung direbut,” pesannya.

Salah seorang warga Bernadeta Nesilia menuturkan dlingo bengle adalah berkah. Kepercayaan ini telah dia pegang sejak masih kecil. Warga Kemantren Kraton inipun senang karena akhirnya garebeg kembali terselenggara setelah absen tiga tahun. 

“Fungsinya buat tolak bala, tolak sawan, minta keselamatan buat anak, terhindar dari penyakit tetap sehat apalagi cuaca seperti ini. Dari kecil sudah ikut, rumah saya di selatan ini,” katanya. (dwi) Editor : Editor News
#Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat #gunungan garebeg #garebeg syawal #GKR Mangkubumi #Numplak wajik