Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ratu dari Pajang dan Surabaya Bersemayam di Girilaya

Editor Content • Kamis, 20 April 2023 | 13:00 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Meski batal menjadi makam Susuhunan Agung Hanyakrakusuma berikut keturunannya, Girilaya tetap menjadi salah satu pasareyan leluhur Mataram. Sebab, di makam yang berada di atas bukit itu bersemayam para tokoh penting Dinasti Mataram.

Sebut saja di Girilaya ada dua makam prameswari dalem atau permaisuri raja Mataram yang berbeda generasi. Pertama, makam Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Dia merupakan Ratu Kulon alias permaisuri pertama Susuhunan Hanyakrawati, raja kedua Mataram setelah Panembahan Senopati.

Ratu Adi ini merupakan ibunda Susuhunan Agung atau Sultan Agung. Dia putri dari Kasultanan Pajang. Ratu Adi anak dari Pangeran Benawa, raja kedua Pajang. Ayah Benawa adalah Sultan Hadiwijaya. Dengan perkawinan Hanyakrawati dengan Ratu Mas Adi merupakan bentuk bersatunya darah Mataram dan Pajang dengan kelahiran Sultan Agung.

Selain Ratu Mas Adi dari Pajang, Girilaya juga menyimpan jasad Ratu Pembayun dari Surabaya. Dia putri Pangeran Pekik, penguasa Kadipaten Surabaya. Ratu Pembayun inilah yang diangkat sebagai permaisuri pertama Susuhunan Amangkurat Agung atau Hamangkurat I, putra Sultan Agung.
Ratu Pembayun ini wafat beberapa hari setelah melahirkan Raden Mas (RM) Rahmat. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Girilaya. RM Rahmat itu nantinya bergelar Hamangkurat II. Dia adalah cucu Sultan Agung.

Kompleks Girilaya terdiri atas Masjid Girilaya, pemakaman di sayap kiri dan sayap kanan serta pemakaman di sekeliling luar tembok pagar sayap kiri. Masjid Girilaya dibangun bersamaan dengan pembangunan Pasareyan Girilaya pada 1632. Bentuk masjid tua ini sederhana. Berbentuk tajug segi empat beratap limasan tumpang dengan hiasa di puncaknya.

Di sayap kanan serambi tampak makam Ki Ageng Giring, Ki Ageng Gentong dan Sultan Cirebon V. Di halaman luar menuju pemakaman di sayap kiri serambi ada sebuah batu besar dan batu kecil di atas tumpukan batu. Batu besar tersebut dahulu merupakan palenggahan atau tempat Sultan Agung saat meninjau pembangunan makam Girilaya. Konon batu besar tersebut adalah batu yang dilempar Sunan Kalijaga dari Makkah untuk menentukan lokasi pemakaman.

Kemudian di sebelah kiri makam Ki Juru Wiro Probo di atas tumpukan batu. Sebelum masuk ke kompleks utama, sebelah kiri merupakan makam Ki Wiroguna dan Nyai Nerangkusumo. Sedangkan bangunan utama Pasareyan Girilaya ada nisan Sekaran Sepen, sebuah batu nisan yang dipercaya sebagai makam spiritual atau roh Sultan Agung. Di masa lalu makam tersebut dilindungi bangunan berupa pendapa. Terlihat dari delapan umpak yang ada di lokasi.

Di lokasi tersendiri nampak makam Ratu Pembayun, permaisuri pertama Susuhunan Hamangkurat I, ibunda Hamangkurat II. Ada juga makam Kanjeng Pangeran Harya Mangkubumi dan Kanjeng Pangeran Harya Sokowati, keduanya adik Sultan Agung. Tumenggung Harya Wangsa serta Tumeggung Hanggabahu.

Berikutnya adalah makam Ratu Mas Adi, permaisuri Panembahan Hanyakrawati, ibunda Sultan Agung. Di sampingnya, makam Panembahan Juminah. Dia putra Panembahan Senopati dari putri Madiun Retno Dumilah. Panembahan Juminah merupakan suami kedua Ratu Mas Adi.

Pernikahan Ratu Mas Adi dengan Panembahan Juminah ini kelak menurunkan beberapa anak. Di antaranya, Pangeran Adipati Balitar dan Raden Ayu Kajoran. Cucu buyut alias cicit Pangeran Adipati Balitar bernama Raden Ayu Mas Balitar. Kelak menjadi permaisuri Susuhunan Paku Buwono I, raja Mataram yang berkedudukan di ibu kota Kartasura.

Sedangkan Raden Ayu Kajoran menikah dengan Pangeran Kajoran dari Tembayat, Klaten. Dari pernikahan ini melahirkan seorang putri yang menjadi permaisuri Susuhunan Amangkurat Agung atau Sunan Hamangkurat I. Lahir kemudian Raden Mas (RM) Drajat yang nantinya naik takhta sebagai Susuhunan Paku Buwono I. (laz)

  Editor : Editor Content
#mataram