Diketahui bahwa 1 Syawal tahun ini tidak berlangsung bersamaan. Pemerintah menetapkan Idul Fitri 1444 H jatuh pada 22 April 2023. Sementara Muhammadiyah menetapkan lebih awal yaitu 21 April 2023.
“Saya kira enggak ada masalah, saya kira itu. Paling saat waktu solatnya saja yang berbeda. Selama ini sering terjadi hal yang berbeda gitu,” jelasnya ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Selasa (11/4).
Kapolda DIJ Irjen Pol Suwondo Nainggolan mengaku telah berkoordinasi dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Kaitannya adalah persiapan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Berupa peran menjaga kondusivitas secara bersama-sama.
Terkait pengamanan, pihaknya akan berjaga di sejumlah lokasi. Terutama yang menjadi pelaksanaan ibadah Salat Ied. Sehingga ibadah tetap berlangsung dengan kusyuk di semua wilayah.
“Seperti tahun lalu, pengamanan Hari Raya Idul Fitri dengan dua kali kegiatan salat. Dilaksanakan pengamanan di tempat ibadah,” katanya.
Pihaknya bersama Danrem 072/Pamungkas juga berkoordinasi secara intens dengan FKUB. Salah satu kesepakatan adalah pengamanan oleh non muslim saat ibadah. Khususnya kekusyukan saat ibadah salat Ied.
“Nanti kegiatan pengamanan rumah, lingkungan dan juga tempat parkir pada saat salat Ied itu dari masyarakat secara sukarela yang tidak melaksanakan salat Ied. Dalam hal ini beragama non muslim akan turut serta membantu,” ujarnya.
Metode ini merupakan adaptasi dari penerapan di Bantul dan Kulonprogo. Berupa keterlibatan masyarakat secara aktif dalam setiap hari raya. Sehingga akan diterapkan untuk wilayah-wilayah lain di Jogjakarta.
Teknis pelaksanaan, lanjutnya, akan melibatkan pamong wilayah. Baik oleh Kepala Dukuh yang didukung oleh Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Tentunya dengan unsur utama dari masyarakat setempat.
“Ini sudah berlangsung lama yang kami sooroti di wilayah Kulonprogo dan Bantul, metode ini kita lakukan untuk wilayah lain. Sifatnya kesukarelaan dan direspon luar biasa oleh para pemuka agama tersebut,” katanya. (dwi) Editor : Editor News