Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sabdaraja Bikin Keluarga Terbelah, Takhta Martapura Tersingkat dalam Sejarah

Editor Content • Senin, 3 April 2023 | 13:00 WIB
SIAP MENANG: KPH Purbodiningrat diapit Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa di sela kunjungan di Kelompok Wanita Tani (KWT) Galeri Batik Jasmine Nologaten, Rabu (2/12).(ISTIMEWA)
SIAP MENANG: KPH Purbodiningrat diapit Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa di sela kunjungan di Kelompok Wanita Tani (KWT) Galeri Batik Jasmine Nologaten, Rabu (2/12).(ISTIMEWA)
RADAR JOGJA - Setelah berkonsultasi dengan Pepatih Dalem Adipati Mandaraka, Panembahan Hanyakrawati kemudian menggelar rapat kabinet. Sejumlah petinggi Mataram dikumpulkan. Selain Mandaraka, hadir dalam pertemuan itu sejumlah adik raja seperti Pangeran Purbaya, Pangeran Mangkubumi, dan para bupati.

Purbaya merupakan pangeran senior. Dia dipercaya sebagai Panglima Tentara Nasional Kerajaan Mataram (TNKM). Sedangkan Mangkubumi menjadi salah satu menteri koordinator kerja sama mancanegara. Mangkubumi adalah pangeran yang mengumumkan kenaikan takhta Hanyakrawati menggantikan ayah mereka, Panembahan Senopati pada 1601.

Di Bangsal Sitihinggil, Hanyakrawati mengaku baru saja mendapatkan bisikan gaib dari leluhurnya. Isinya dia diperintahkan mengangkat Raden Mas (RM) Jatmika atau Pangeran Rangsang sebagai penerus takhtanya Rangsang merupakan putra dari permaisuri kedua, Kanjeng Ratu Mas Adi Dyah Banowati dari Pajang. Ratu Mas Adi merupakan putri Pangeran Benawa.

Perintah Hanyakrawati itu kemudian dituangkan dalam dekrit kerajaan, sabdaraja atau perintah raja. Dengan sabdaraja itu otomatis mengubah konstelasi politik. Hanyakrawati sebelumnya telah mengangkat RM Wuryah sebagai putra mahkota. Dia lahir dari perkawinan dengan putri Panaraga, Raden Ayu Lungayu. Kedudukan Lungayu sebagai permaisuri pertama atau Ratu Kulon.

Munculnya sabdaraja itu menimbulkan persoalan serius. Keputusan menggeser posisi putra mahkota itu mengundang polemik. Situasi bertambah pelik. Tak lama usai mengeluarkan sabdaraja, Hanyakrawati wafat secara misterius saat berburu di hutan Krapyak di daerah Kedu. Penyebab kematiannya masih dalam penyelidikan bebadan telik sandi Mataram.

Sepeninggal Hanyakrawati, keluarga kerajaaan terbelah dalam dua kubu. Ada yang pro dan kontra. Pihak yang menolak diwakili Pepatih Dalem Mandaraka, keluarga Adipati Panaraga, maupun pejabat-pejabat senior kerajaan. Kubu ini berpandangan raja telah ingkar janji. Seorang pemimpin harus satu kata dengan perbuatan.

Janji menjadikan Wuryah sebagai penerus takhta harus dilaksanakan. Apalagi Wuryah adalah anak sulung dari permaisuri pertama. Jauh lebih punya hak ketimbang Rangsang yang berstatus pangeran biasa.

Sebaliknya, pendukung Ratu Adi sebagai Ratu Wetan atau permaisuri kedua disokong Pangeran Purbaya. Ditambah Adipati Pajang dan jaringan massa dari kadipaten-kadipaten bawahan Mataram.

Kubu ini beralasan sabdaraja harus dilaksanakan karena merupakan perintah raja. Perdebatan tidak ada titik temu. Situasi semakin parah. Pendukung Rangsang mengancam mengadakan aksi people power dengan tapa pepe di Alun-Alun Kotagede. Kubu ini mengampanyekan sabdaraja harga mati. Bukan mati harga. Karena itu, tidak dapat ditawar-tawar apalagi mau didiskon.

Kubu Wuryah tak mau kalah. Mereka siap menggelar aksi tandingan. Kelompok seni reog Ponorogo siap-siap ambil bagian turun ke jalan. Melihat itu, Adipati Mandaraka merasa khawatir. Situasi sosial politik Mataram bisa tidak terkendali. Sebagai bagian dari The Founding Mataram, Mandaraka tak ingin Negara Kesatuan Kerajaan Mataram terpecah belah gara-gara urusan suksesi. Negara yang dia bangun bersama Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senopati tak boleh hancur gara-gara konflik keluarga.

Perdana menteri Mataram berinisiatif membentuk mahkamah kerajaan (MK). Tugasnya mencari solusi mengatasi krisis politik tersebut. MK diharapkan menjadi juru adil. Beranggotakan tokoh-tokoh kerajaan yang dianggap kredibel.
Hasilnya disepakati Wuryah tetap dilantik. Gelarnya Adipati Martapura.

Penobatan Martapura berlangsung 4 Oktober 1613. Sore harinya, Martapura menyatakan berhenti dari jabatannya. MK membatalkan pengangkatan Martapura. Takhta Wuryah berlangsung singkat. Bahkan tersingkat dalam sejarah raja-raja Mataram. Dia digantikan kakaknya Rangsang.

Saat naik takhta Martapura masih berumur 8 tahun. Sedangkan Rangsang telah berusia 20 tahun. Rangsang naik takhta bergelar Panembahan Agung Hanyakrakusuma. Turun tahktanya Martapura itu sempat membuat bingung rakyat Mataram. Sebab, saat dikukuhkan sebagai raja ketiga Mataram, di alun-alun rakyat mengelu-elukannya.

Diam-diam Rangsang telah menyiapkan skenario. Dia telah meminta tim medis istana yang terdiri dari tabib, dukun dan para ahli kesehatan menyatakan Martapura mengalami gangguan kesehatan sehingga berhalangan melanjutkan memimpin Mataram. Setelah turun takhta, Martapura memilih mengasingkan diri menjadi Raden Santri di Gunung Pring, Muntilan, Magelang.

Hingga akhir hayatnya Martapura menyiarkan agama di Kedu, di daerah ayahnya terbunuh secara misterius. Makam mantan raja Mataram tersebut berada di kompleks masjid Gunung Pring. Pengelolaan masjid dan makam Gunungpring sekarang dilakukan Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. (laz) Editor : Editor Content
#TNKM #Panembahan Hanyakrawati