Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Merangkap Barista, Berdayakan Teman Tuli Lainnya

Editor Content • Kamis, 2 Maret 2023 | 14:46 WIB
SEMANGAT: Ahmad Roby, keterbatasan fisik sebagai penyandang disabilitas tunarungu tak menjadi patah semangat dalam berwirausaha. Ia pun mendirikan Kafe Susu Tuli (Kasuli).(FAHMI FAHRIZA/RADAR JOGJA)
SEMANGAT: Ahmad Roby, keterbatasan fisik sebagai penyandang disabilitas tunarungu tak menjadi patah semangat dalam berwirausaha. Ia pun mendirikan Kafe Susu Tuli (Kasuli).(FAHMI FAHRIZA/RADAR JOGJA)
 

RADAR JOGJA - Keterbatasan fisik tak menyurutkan semangat Ahmad Roby, 30, untuk berwirausaha. Penyandang tunarungu ini bahkan bisa menciptakan peluang kerja bagi orang lain.

FAHMI FAHRIZA, Jogja, Radar Jogja

Roby kini memiliki usaha yang diberi nama Kafe Susu Tuli (Kasuli) di Jalan Langenarjan Lor, Panembahan, Kota Jogja. Kafe itu sudah dirintisnya sejak 2019.

"Awal buka dulu dibantu beberapa teman tuli lainnya. Namun saat pandemi, kami sempat tutup dan sekarang berjalan kembali. Namun baru saya sendiri yang mengelola, menjadi owner sekaligus barista," jelas Roby melalui Kurnelia Sukmawati sebagai juru bahasa isyarat kepada Radar Jogja (27/2).

Selain sebagai tempat berjualan, Kasuli juga menjadi basecamp perkumpulan beberapa komunitas. Salah satunya penyandang tunarungu atau komunitas tuli bernama Bawayang. "Bawayang sendiri sebuah komunitas tuli yang fokus pada advokasi melalui media kesenian," ujarnya.

Anggota Bawayang tidak hanya berisi para penyandang tunarungu, tapi juga orang-orang normal yang ingin belajar bahasa isyarat. Kadang untuk rapat koordinasi atau sekadar kumpul-kumpul. "Kebetulan saya juga bagian dari komunitas Bawayang," tambah Roby.

Dalam menjalankan usahanya, Roby juga membuka kesempatan para pengunjung yang ingin belajar bahasa isyarat. "Saya menyediakan papan berisi abjad bahasa isyarat yang bisa digunakan pengunjung untuk komunikasi. Saya juga terbuka mengajari mereka bahasa isyarat," katanya.

Roby mengatakan, teman-teman tunarungu juga seharusnya dianggap setara dengan teman-teman pada umumnya. Jika diapresiasi, maka itu sebagai penghargaan atas karya atau usahanya, bukan karena rasa belas kasihan.
Diakui Roby, ia lebih nyaman dengan sebutan tuli dibandingkan tunarungu. Ini karena menurut pemahamannya, tunarungu itu kondisi kerusakan yang masih bisa disembuhkan. Sementara tuli tidak. Ia pun sudah berusaha berdamai dengan situasi tersebut.

"Saya mengalami kondisi tuli sejak usia 10 bulan. Penyebabnya, waktu itu panas tinggi setelah jatuh dari tempat tidur hingga menyebabkan kehilangan pendengaran pada diri saya," ungkap Roby. (laz) Editor : Editor Content
#Jogja