Kusno S. Utomo, Wulan Yanuarwati, Jogja
Ku tuliskan lagu ini
Ku persembahkan padamu
Walau pun tiada indah
Syair lagu yang ku gubah
“Lagu ini sengaja saya persembahkan buat Pak Aji,” ucap Ketua DPRD DIJ Nuryadi. Suara merdunya kemudian melantun di lantai dua gedung parlemen. Lagu ciptaan Gatot Soenjoto dinyanyikan ketua dewan hingga rampung.
Tak cukup hanya satu judul. Diiringi musik keroncong, Nuryadi kembali menyanyikan dua lagu lainnya. Fatwa Pujangga dan Malam Minggu karya Bing Slamet. Lagu terakhir dinyanyikan berduet secara bergantian dengan Wakil Ketua Dewan Anton Prabu Semendawai. Tak sampai tuntas, Anton digantikan Ketua Komisi B Andriana Wulandari. Duet Nuryadi dan Andriana itu tampak kompak. Suasana bertambah semakin meriah.
Itulah suasana yang terlihat di gedung parlemen kemarin (28/2). Kali pertama dewan menginisiasi acara pelepasan Sekprov DIJ yang memasuki masa pensiun. Kadarmanta Baskara Aji menjadi Sekprov pertama yang dilepas secara resmi oleh pimpinan dan anggota dewan. “Kami ingin mengawali ini sebagai tradisi,” ucap Sekretaris DPRD DIJ Haryanta di sela acara.
Jalannya acara pelepasan berlangsung sederhana namun khidmat. Usai nyanyi-nyanyi dilanjutkan di ruang paripurna lantai dua. Nuryadi memberikan sambutan tunggal. Dia mengaku mengenal Aji cukup lama. Sejak dirinya menjadi ketua Komisi D DPRD DIJ periode 2009-2014 lalu.
Saat itu Aji masih menjabat kepala bidang perencanaan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIJ. Kemudian promosi menjadi kepala dinas hingga Sekprov DIJ sejak 6 November 2019 lalu. “Paseduluran dan silaturahmi ini kami harapkan terus berlanjut meski Pak Aji tidak lagi bertugas di pemerintahan,” katanya.
Sedangkan Aji mengaku punya kenangan yang panjang dengan gedung parlemen. Dia mulai mengikuti sidang di gedung dewan semasa bertugas di Bappeda DIJ pada awal 2000-an. Birokrat yang tinggal di Jalan Parangtritis Bantul itu mengawali tugas di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi DIJ pada 10 Maret 1990. Sebagian besar masa dinasnya sebagai ASN dihabiskan di lingkungan pendidikan. Hingga purna, totalnya Aji mengabdi selama 33 tahun.
“Hanya tiga tahun di Bappeda. Empat tahun sebagai Sekprov dan 23 tahun di dinas pendidikan,” cerita pria yang berulang tahun 25 Februari lalu.
Kantor pertama dirinya menjadi ASN berada di kompleks Wiyata Praja kompleks Kepatihan. Dulu kompleks itu menjadi gedung dinas pendidikan dan kebudayaan. Kini kompleks Wiyata Praja dipakai sebagai ruang kerja Sekprov dan tiga asisten Sekprov.
“Saya tugas pertama di Wiyata Praja dan pensiun juga di sana,” ceritanya.
Di hari terakhirnya sebagai ASN, Aji terlihat sumringah. Dia pun merasa gembira menyambut masa pensiun. "Ora papa (tidak apa-apa, Red). Tak ada perubahan perasaan. Masih baik-baik saja. Hari ini rasanya ayem,” kata alumnus Fisipol UGM 1988 ini. Setelah purna tugas, Aji mengaku akan fokus pada keluarga. "Mau momong putu (cucu, Red). Saya punya cucu dua. Tadi bangun tidur sudah nanya 'Kung kapan jadi mau antar Agra sekolah? Eh dek masih satu hari lagi kerjanya," ungkapnya menceritakan komunikasi dengan sang cucu.
Mantan kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIJ ini menceritakan pengalaman yang tidak bisa dilupakan saat menjabat Sekprov. Dikisahkan, menghadapi demo orang tua siswa saat menjadi kepala dinas ternyata kalah dengan pengalaman menangani badai pandemi Covid-19.
"Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Tidak pernah ada di tupoksi saya dan gubernur. Tiba-tiba muncul dan pasti kita semua terkaget-kaget. Saya merasa punya kewajiban berat karena menyangkut nyawa," jelasnya.
Aji mengaku lega karena pandemi berhasil dilewati bersama-sama dengan baik. Sinergitas antarorganisasi perangkat daerah (OPD) menjadi kunci. Selama pandemi Aji terlihat kurang tidur. Banyak hal yang harus diselesaikan. "Oiya. (Sampai mata bengkak) njendul njendul kan. Itu saya kira peristiwa sangat (dalam)," ucapnya.
Ayah empat anak ini juga menceritakan pengalaman lainnya. Bekerja bersama dengan Gubernur DIJ Hamengku Buwono X. Aji mengaku sangat berkesan saat berkomunikasi dengan raja Keraton Jogja itu.
"Saya merasa enjoy. Beliau Ngarsa Dalem, priyayi yang sangat terbuka. Saya bisa hubungi beliau setiap saat. Bisa sowan setiap saat. Sesibuk apa pun beliau selalu menyempatkan," tuturnya.
Suami Sri Endah Pujiati ini melihat HB X sangat komunikatif. Bila kondisi tidak memungkinkan untuk tatap muka, tidak masalah dihubungi melalui sambungan telepon. Cara komunikasi iu sangat memudahkan tugasnya sebagai Sekprov.
Disinggung kemungkinan terjun ke dunia politik, Aji mengaku tidak mau. Dia merasa tidak mampu. Dia berencana fokus dengan keluarga. Juga berorganisasi sosial dan mengajar. Jauh sebelum menjadi pejabat, Aji pernah menjadi dosen berbagai perguruan tinggi. Di antaranya pernah mengajar di STIE YKPN. Dia punya latar belakang akuntansi. Kini Aji juga tercatat sebagai widyaiswara utama di Kementerian Dalam Negeri. (pra) Editor : Editor Content