Charris mengatakan, Bioskop Arjuna sendiri cukup eksis dari tahun 60 sampai 90-an. Kehadiran bioskop yang dulu ada di Jalan Tentara Pelajar, menjadi sarana hiburan untuk masyarakat bukan golongan elite. Sebab, harga tiket untuk menonton film di bioskop itu tergolong murah dibandingkan bioskop lainnya di Jogja.
Dengan harga tiket murah, lanjut Charris, tentu ada beberapa kekurangan yang melekat di bioskop ini. Seperti film yang diputar biasanya merupakan film-film lama atau film yang sudah diputar terlebih dahulu di bioskop lain. Kemudian dari segi kebersihan dan kualitas tentu akan sangat jauh dibandingkan bioskop kelas di atasnya.
“Bioskop Arjuna bisa dikatakan mewadahi masyarakat kelas menengah ke bawah. Sebab di masa lalu, orang bisa nonton bioskop itu prestise, apalagi tahun 70-an. Arjuna juga memenuhi kebutuhan anak-anak muda atau masyarakat yang kondisi ekonominya pas-pasan,” ujar Charris kepada Radar Jogja, Jumat (3/2).
Meski tidak tahu secara rinci tentang sejarah dan perkembangan Bioskop Arjuna, Charris menyatakan bioskop tersebut memang masuk sebagai tempat menonton film kelas bawah pada masanya. Setara dengan Bioskop Widya, THR, dan Istana.
Bioskop Arjuna juga tidak lebih bagus dari bioskop kelas menengah. Kualitasnya masih di bawah Bioskop Permata, Indra, atau Rahayu. Serta sangat jauh dengan bioskop kelas atas seperti Jogja Teater dan Bioskop Mataram.
Meskipun begitu, Charris mengaku memiliki kenangan tersendiri terhadap bioskop-bioskop dengan kelas bawah itu. Seperti harga tiket yang cukup terjangkau dan kelakuan sebagian penonton yang tak jarang membuat jengkel penonton lainnya.
“Kalau bioskop kelas bawah pasti ada suasana yang tidak sopan, seperti penonton ciuman dan ada yang kencing di dalam bioskop. Suasana yang sebenarnya agak asyik itu, tidak kita temukan di bioskop kelas atas,” ungkap Charris. (inu/laz) Editor : Editor Content