Walau begitu, masyarakat, lanjutnya, diminta untuk tetap memperhatikan sampah yang akan diberikan ke penggerobak. Misalnya dengan membungkus sampah organik dalam kantong sampah terpisah.
“Kalau mau sodaqoh sampah ya tidak apa-apa diberikan ke penggerobak, tapi bilang. Kalau mau disodaqohkan setiap harinya ya dibungkus transparan. Bilang ‘pak niki untuk jenengan sampah yang ini’ mereka mau, mereka sudah paham,” jelas Haryoko, Selasa (3/1).
Selama ini Haryoko kerap mendapat keluhan dari para penggerobak. Kebanyakan sampah yang mereka dapatkan adalah sampah residu seperti popok bayi bekas, pembalut dan plastik bekas. Sedangkan sampah-sampah residu dinilai tak banyak menghasilkan pundi-pundi uang.
“Kalau cuma bawa pampers penggerobak ini tidak dapat apa-apa. Padahal setiap harinya juga memilah tukang gerobak ini,” katanya.
Menurut Haryoko pemilahan sampah menjadi upaya meringankan pekerjaan para penggerobak. Selain itu juga dalam rangka mendidik masyarakat. Terutama untuk bisa mengelola sampahnya sendiri.
“Kalau bisa mengolah di rumah silakan, tapi kalau tidak juga bisa memudahkan kinerja tukang gerobak kalau mau sodaqoh sampah. Intinya pemilahan. Kita mendidik masyarakat itu ayo berubah milah sampah” ujarnya. (isa/dwi) Editor : Editor News