Di salah satu area alat peraga di Taman Pintar, tampak Dina, seorang warga Bogor tengah mendampingi ketiga anaknya untuk bermain. Anak-anaknya sedang menjajal alat peraga spektrum warna. Alat tersebut dimainkan dengan cara diputar mulai dari kecepatan pelan hingga kencang.
Alat berbentuk lingkaran yang penuh warna itu akan berubah menjadi putih jika terus diputar dengan kecepatan tinggi. Dina mengaku terkesan meski sudah berkali-kali datang ke Taman Pintar. Menurutnya, destinasi wisata semacam ini tak bisa ditemukan selain di Jogjakarta.
”Dulu pernah ke sini waktu anak saya masih kecil. Sekarang sudah sekolah, sudah kenal dengan pengetahuan. Di sini bisa mengenal hewan purba, ada teknologi, ada bagian IPA di atas,” jelas Dina saat ditemui di Taman Pintar, Senin (26/12).
Dina menjadikan Taman Pintar sebagai tujuan utama saat libur nataru kali ini. Edukasi mengenai sains yang ada di Taman Pintar baginya sangat penting bagi perkembangan pengetahuan putra putrinya. Ini bisa menjadi pembuktian dari pelajaran teori yang didapatkan di sekolah.
Di sini anak dapat mempraktikkan secara langsung. Sehingga dapat meningkatkan pemahaman tentang ilmu-ilmu sains.
“Jadi bukan hanya sekedar liburan tapi ada edukasi. Bagus menurut saya karena dengan harga yang terjangkau untuk masyarakat manfaatnya banyak. Jadi anak kita bisa kenal dan lama-lama akan terfikir. Nanti beberapa tahun lagi mereka akan ingat dan pernah belajar di sekolah, jadi tahu,” katanya.
Di area yang lain tampak beberapa remaja tengah menjajal salah satu peraga simulasi gempa. Usai tombol ditekan, area tersebut akan bergoyang layaknya sedang terjadi gempa bumi.
Di situ tertulis langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan jika terjadi gempa. Diantaranya tetap bersikap tenang dan berlindung di bawah meja.
Salah satu yang turut menaiki alat peraga simulasi gempa adalah Devara Altafa. Siswi SMAN 5 Madiun ini mengaku sering membaca edukasi mengenai gempa bumi. Namun, dia mengakui hanya memahami sebatas teorinya saja. Di Taman Pintar, Devara akhirnya bisa merasakan langsung gempa buatan yang dikemas dalam sebuah alat peraga.
“Rasanya kaget soalnya tiba-tiba hoyag-hoyag (goyang) sendiri. Bagus untuk menambah pengalaman, biar tahu bagaimana rasanya gempa. Kalau untuk Taman Pintar menarik, soalnya bisa dikunjungi juga bisa jadi pelajaran buat anak-anak zaman sekarang karena sukanya main. Jadi, bisa ke sini sekalian belajar,” ujarnya. (isa/dwi) Editor : Editor News