Kabid Penegakan Perundang-Undangan Satpol PP Kota Jogjakarta Dodi Kurnianto menegaskan penutupan tak menyalahi aturan. Pihaknya justru menegakan aturan terkait perizinan. Terbukti jelas bahwa pengelola even tak mengantongi perizinan apapun.
“Setiap kegiatan harus izin. (Penutupan) sudah komunikasi dilakukan sebelumnya ini langsung penutupan. Sudah komunikasi (ke pengelola even) juga, penutupan permanen,” tegasnya ditemui di lokasi Tugu Jogja Expo di Jalan Margo Utomo Jogjakarta, Jumat (16/12).
Diketahui Tugu Jogja Expo dibuka dari 8 Desember 2022 hingga 8 Januari 2023. Konsepnya berupa pasar malam di tanah lapang. Menyajikan beragam stan kuliner, produk elektronik, stan permainan hingga panggung kesenian.
Dasar penutupan karena even berlangsung di zona sumbu filosofi. Selain itu Pemkot Jogja juga menilai kantong parkir tak memadai. Lalu menimbulkan kemacetan di Jalan Margo Utomo. Pertimbangan lain adalah karena lokasi berdekatan dengan Bangunan Cagar Budaya Hotel Toegoe.
“Seperti itu, lalu karena sampai sekarang belum keluar izin maupun rekomendasi dari kepolisian, penutupan permanen,” katanya.
Proses penutupan Tugu Jogja Expo juga melibatkan Sat Brimob Polda DIJ, TNI dan Polisi Militer. Dodi memastikan komunikasi dengan pihak pengelola baik. Dia juga memastikan pengelola berkenan mengakhiri kegiatan pasar malam.
Pasca penutupan, pihaknya memberikan akses transportasi. Fungsinya untuk lalulintas kendaraan pengangkut stan dan panggung. Terkait target pengosongan lahan, Dodi berharap secepatnya.
“Tidak ada proses alot dan sudah ngomong dengan pemangku kebijakan. Kami berikan akses bisa keluar dengan baik - baik. Ada proses in out dan tidak terjadi kemacetan, pembersihan secepatnya,” ujarnya.
Pengelola Tugu Jogja Expo Widihasto Wasana Putra mengaku kaget. Meski mau menutup gelaran pasar malm, Hasto tetap mempertanyakan alasan penutupan. Mulai dari parkir, berdekatan dengan BCB hingga menimbulkan kemacetan.
Dia juga mempertanyakan keberadaan personil Brimob bersenjata lengkap. Menurutnya tindakan tersebut berlebihan. Ini karena pihaknya mau membuka pintu diskusi dengan Satpol PP Kota Jogja.
“Dampak ekonomi sangat besar karena ada 182 stan dan 30 wahana ada panggung kesenian lalu warga yang membuka jasa penitipan kendaraan,” katanya.
Tak ingin terlalu berpolemik, Hasto menjamin aktivitas Tugu Jogja Expo akan berhenti. Dimulai Jumat malam (16/12) dengan tidak adanya aktivitas. Disatu sisi, Hasto juga ingin mengunggat ke PTUN terkait kebijakan pelarangan even di sumbu filosofi.
“Akan gugat untuk mempertanyakan kebijakan ini. Untuk Tugu Jogja Expo kita akhiri, seperti yang sudah ditegaskan Satpol PP,” tegasnya. (dwi) Editor : Editor News