Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sempat Ditipu Pedagang, Sukses Budi Daya Lele Sistem Kocor

Editor Content • Kamis, 10 November 2022 | 13:53 WIB
MENJANJIKAN: Muhammad Supriyanto saat mengecek kolam terpal budi daya lele sistem kocor di kolam milik kelompok Banyuwiyoso, Padukuhan Gumuk, Ringinharjo, Bantul.(IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)
MENJANJIKAN: Muhammad Supriyanto saat mengecek kolam terpal budi daya lele sistem kocor di kolam milik kelompok Banyuwiyoso, Padukuhan Gumuk, Ringinharjo, Bantul.(IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)
 

RADAR JOGJA - Mencapai keberhasilan terkadang harus melalui proses pahit. Hal ini yang dirasakan Muhammad Supriyanto dalam mengembangkan budi daya ikan. Sejak memulai bisnis 2014 lalu, pengurus kelompok perikanan Banyuwiyoso ini sempat ditipu dan terpuruk. Sebelum akhirnya sukses mengembangkan budi daya lele kolam terpal sistem kocor seperti sekarang.

IWAN NURWANTO, Radar Jogja, Bantul

Supriyanto mengaku dalam mengembangkan bisnis budi daya perikanan memang gampang-gampang susah. Jatuh bangun pun pernah dirasakan pria lima puluh tahunan itu dalam mengembangkan usahanya.

Ia menceritakan saat kali pertama memulai usaha budi daya ikan pada 2014. Supriyanto mengaku awalnya dimulai secara mandiri atau belum berkelompok. Akibatnya, para pembudidaya ikan di wilayah tempat tinggalnya pun dipermainkan oleh para pedagang ikan.

Hasil panen ikan milik warga dibeli dengan harga murah, jauh di bawah dari harga pasaran. Ini membuat para pembudidaya lele di Padukuhan Gumuk, Kalurahan Ringinharjo, Bantul, merugi dan tak bisa balik modal.

“Sebelum berkelompok seperti sekarang, memang kami dalam membudidayakan ikan secara sendiri-sendiri. Hal itu membuat kami dipermainkan oleh pedagang,” ucap Supriyanto saat ditemui Radar Jogja di kediamannya, Senin (7/11).

Usai membentuk kelompok perikanan Banyuwiyoso, Supriyanto bersama kelompoknya beralih mengembangkan budi daya ikan gurami. Sayangnya, untuk jenis ikan air tawar dengan rasa dagingnya yang lezat itu kurang prospektif. Sebab, untuk bisa mencapai panen perlu waktu yang sangat lama dan banyak pula bibit-bibit gurami yang mati.

Cukup dengan budi daya ikan gurami, Supriyanto dan kelompok budi daya ikan Banyuwiyoso mulai mencoba budi daya ikan hias. Keuntungan dari budi daya ikan hias tergolong menjanjikan. Pasalnya, saat pandemi permintaan ikan hias cukup tinggi. Bahkan para pembudidaya pun bisa meraup keuntungan sampai seratus persen.

“Namun enam bulan belakangan, ikan hias tidak laku dan kami terpuruk. Sehingga kemudian beralih membudidayakan lele lagi,” terang Supriyanto.
Belajar dari pengalaman, dalam membudidayakan lele Supriyanto bersama kelompoknya lalu membentuk jaringan penjualan hasil panenan lele. Selain itu dikembangkan pula sistem budi daya lele kolam terpal dengan model kocor atau air deras.

Sistem budi daya lele model kocor sendiri merupakan cara budi daya lele dengan memanfaatkan pompa untuk menambah air dan menyedot kotoran dari dasar kolam. Sehingga, kondisi kolam terpal pun selalu bersih.

Sejak memulai budi daya lele dengan sistem itu, dalam kurun waktu setengah tahun terakhir ia mengaku para pembudidaya mulai mendulang keuntungan. Sebab, hasil produksi lele dengan sistem kocor memuaskan. Dalam satu kolam dengan jumlah bibit satu kuintal, pembudidaya bisa menghasilkan sampai 6-7 kuintal lele dalam sekali panen.

Seiring berkembangnya waktu, hingga saat ini kelompok perikanan Banyuwiyoso memiliki 58 kolam terpal. Semuanya menerapkan sistem budi daya kocor. Besar keuntungan bersih tiap satu kolam lele mencapai Rp 2,5 juta sampai Rp 4,5 juta tiap kali panen. Hasil panenan lele dengan sistem ini pun tergolong bagus dan kini sudah dipasarkan ke berbagai daerah.

“Keunggulan dari sistem kocor adalah kualitas daging lele yang sangat bagus. Sehingga tidak mudah hancur ketika diolah dan cocok hingga banyak dicari untuk bahan baku produk olahan,” beber Supriyanto. (laz) Editor : Editor Content
#Bantul #Jogja