Usung Hamemayu Hayuning Bawana, Jogja Planning Gallery Tonjolkan Kearifan Lokal

Editor News • Dipublikasikan Selasa, 12 Juli 2022 | 22:58 WIB
KEARIFAN LOKAL : Perwakilan kelompok Studi Arsitektur Kolektif Haidar Majid Dinutanayo menunjukkan desain penataan Jogja Planning Gallery, Senin (12/7). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
KEARIFAN LOKAL : Perwakilan kelompok Studi Arsitektur Kolektif Haidar Majid Dinutanayo menunjukkan desain penataan Jogja Planning Gallery, Senin (12/7). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Konsep pembangunan Jogja Planning Gallery (JPG) mengusung semangat Hamemayu Hayuning Bawana. Ini sesuai dengan nilai-nilai kearifan lokal di Jogjakarta. Termasuk dengan pembangunan di kawasan sumbu filosofis.
Salah satu dewan juri Ahmad Syaifudin Mutaqi menuturkan para peserta tetap mengusung garis besar.

Mengimplementasikan Hamemayu Hayuning Bawana dalam setiap desain JPG. Sehingga tidak menjadi bangunan asing di tengah - tengah kearifan lokal Jogjakarta.

"Karya tiga besar membawa spirit Hamemayu Hayuning Bawana, ini poin penting karena menghadirkan di ruang kawasan cagar budaya itu tidak mudah. Bukan sebagai alien tapi kontekstual lokasi. Ketiganya membuktikan, tapi katakanlah ada yang menonjol jadi juaranya," jelasnya ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Selasa (12/7).

Pria yang juga anggota Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) ini menuturkan arsitektur tidaklah parsial. Kemasan penataan harus holistik. Ini untuk memenuhi memenuhi kaedah dan fungsional secara utuh.

"Mempertimbangkan banyak hal tentang kehadiran dia sebagai kehijauan ditengah kota. Ini spirit positif Hamemayu Hayuning Bawana menjadikan karya tidak lepas dari ruang konteksnya," katanya.

Untuk perwujudan JPG, ada tiga tahapan. Mulai dari skematik desain, design development dan detail engineering design. Sementara untuk saat ini masih pada tahapan pertama berupa perancangan arsitektur.

Dalam tahapan selanjutnya juga ada pengembangan desain. Bisa terjadi penyesuaian desain sesuai tema. Tentunya tanpa keluar dari tema besar yang diusung.

"Tidak keluar dari konsep besar ditetapkan tapi satu sama lain berikan penguatan. Jadi leading sektor tetap juara 1, lalu ada hal baik nanti dimasukan. Saling mengisi dengan dominan juara 1," katanya.

Perwakilan kelompok Studi Arsitektur Kolektif Haidar Majid Dinutanayo menjelaskan detail desain JPG milik timnya. Proses pembuatan desain berlangsung selama 1,5 bulan. Dengan tema utama Dhasar Mangsa Warsa.

Pemilihan tema, lanjutnya, mengadaptasi nilai-nilai kearifan lokal di Jogjakarta. Tak hanya pada desain bangunan tapi juga perencanaan penggunaan bahan baku. Memanfaatkan potensi-potensi yang ada di Jogjakarta.

"Judul Dhasar Mangsa Warsa, menciptakan masa depan berdasarkan nilai luhur. Ini wadah baik indoor maupun outdoor. Harapannya jadi fasilitas bagi warga Jogjakarta," ujarnya.

Untuk bentuk fisik, timnya akan menguatkan bentuk-bentuk kearifan lokal. Ditambah dengan konsep ramah lingkungan. Adapula perpaduan arsitektur gaya Inggris dan tradisional.

"Ada motif bunga truntum terhadap 4 entrance. Ini lambang keharmonisan. Lalu bahan baku lokal, ada tanah liat lalu tentang batu pakai material dari Gunung Medali dan kayu Ulin untuk pengisi kolom," katanya. (Dwi) Editor : Editor News
Jogja planning gallery penataan malioboro Hamemayu Hayuning Bawana Ikatan Arsitektur Indonesia