Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Efek Informasi Tak Benar Dapat Memicu Tindak Kriminal

Editor News • Jumat, 8 Juli 2022 | 15:04 WIB
Kominfo DIJ
Kominfo DIJ
RADAR JOGJA - Era digital diikuti tren dengan membanjirnya informasi. Fenomena ini dapat menjadi positif jika pengelolaan informasi dilakukan dengan bijak. Sebaliknya, berbanding terbalik jika informasi tersebar tanpa verifikasi. Karena itu, masyarakat perlu mendapatkan desiminasi agar dapat bijak dalam bersosial media.

“Apalagi dengan sumber informasi yang sangat banyak," kata Kepala Bidang Keamanan Informasi dan Persandian Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) DIY Sayuri Egaravanda di sela kegiatan Disemenasi Konten Positif bertajuk Adab dalam Ruang Digital di Kelurahan Mantrijeron, Kemantren Mantrijeron, Yogyakarta, Kamis (7/7).

Dikatakan, diseminasi harus menyasar berbagai kalangan. Dalam kegiatan kali ini, Dinas Kominfo DIY menyasar kalangan masyarakat tertentu. Yakni mereka yang telah usia lanjut atau sudah sepuh. Mereka dinilai rentan terpapar berita bohong atau hoaks. Selain itu, kegiatan dilaksanakan pada jam weekday atau hari kerja.

“Saya pikir targetnya adalah beliau-baliau yang memang tidak ada kegiataan saat weekday," ucapnya.

Menurut Sayuri, desiminasi itu merupakan agenda rutin. Diadakan setiap tahun. Sasarannya berbagai titik lokasi di kabupaten dan kota se-DIY. Demi memperluas daya jangkau, kegiatan sengaja didesain dengan memperbanyak interaksi dengan masyarakat.

Diseminasi juga menghadirkan narasumber Anggota Komisi D DPRD DY Stevanus Christian Handoko. Dia menyampaikan materi seputar peran dan dukungan DPRD dalam Gerakan Bijak dan Beradab dalam Bermedsos.

Tentang desiminiasi konten positif itu, Stev, sapaan akrabnya, mengapresiasi. Dia menilai kegiatan itu dilaksanakan demi mencegah terjadinya disinformasi yang diterima masyarakat.

"Jangan sampai informasi (yang tersebar, Red) menimbulkan keresahan karena tidak tepat," tuturnya.

Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini menambahkan, efek informasi yang tidak benar dapat memicu kriminalitas. Sehingga perlu adanya pembiasaan dalam masyarakat agar tidak serta merta menelan mentah-mentah setiap informasi. Perlu dipilah dan dipilih. Harus disaring lebih dulu sebelum di-sharing ke banyak pihak. "Dicerna dulu lebih baik," paparnya.

Dia juga mengatakan, overload alias kelebihan informasi membuat masyarakat malas membaca dan mengadakan verifikasi. Meski banyak hal perlu diantisipasi dengan membanjiri informasi, ada manfaatnya bagi masyarakat. Di era digital, masyarakat semakin dipermudah menyebarkan informasi melalui digital. Terlebih peserta diseminasi banyak yang telah berusia sepuh.

Harapannya kegiatan itu dapat memberikan tambahan informasi bagi para peserta. Khususnya dalam memilah informasi. “Bagaimana bijak dalam berbagi informasi atau menyikapi informasi," ingat dia. Adab dalam ruang digital perlu diketahui dan dipahami masyarakat

Narasumber lain yang bicara dalam acara tersebut Ketua Mafindo Yogyakarta Saptiaji Eko Nugroho. Dia menyampaikan materi soal tanggap dan menolak berita hoaks. Sedangkan pengajar Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta Aditya Wikan Mahastama menguraikan masalah perilaku masyarakat dalam media sosial. (*/fat/kus/dwi) Editor : Editor News
#berita hoax #informasi digital #diskominfo DIJ #edukasi digital