Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pakde Wonogiri, Porsi Brutal “Kimplah-Kimplah”

Editor Content • Sabtu, 11 Juni 2022 - 15:11 WIB
RAMAI: Warung Mi Ayam Pakde Wonogiri di Karang Tengah Kidul, Kalurahan Margosari, Pengasih, Kulonprogo yang selalu ramai. Mi ayamnya dengan porsi brutal, kimplah-kimplah.(HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA)
RAMAI: Warung Mi Ayam Pakde Wonogiri di Karang Tengah Kidul, Kalurahan Margosari, Pengasih, Kulonprogo yang selalu ramai. Mi ayamnya dengan porsi brutal, kimplah-kimplah.(HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Melintas di Kulonprogo, belum lengkap rasanya jika belum mampir ke warung Pakde Wonogiri di Dusun Karang Tengah Kidul, Kalurahan Margosari, Kapanewon Pengasih. Depot makanan ini memiliki menu andalan mi ayam jumbo (brutal) dengan toping daging ayam yang meluap-luap. Kimplah-kimplah!

Jika ada varian menu lain yang tak kalah tenar, namanya bakso Gunung Merapi. Pemilihan lokasi yang sangat strategis menjadi salah satu penentu warung Pakde Wonogiri dibanjiri ratusan pengunjung setiap hari. Ratusan mangkok habis!

Tidak perlu bingung untuk menemukan koordinat warung. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota Wates. Siapa saja yang pernah mampir kebanyakan memberi rambu. Tempatnya tidak jauh di utara Polres Kulonprogo. Jaraknya sekitar 30 km atau 30 menit dari Kota Jogja.

Juni 2018 merupakan titik awal sukses usaha Pakde Wonogiri di Bumi Binangun. Tepatnya pada pertengahan bulan puasa. Gerobak mi ayam dengan cat warna merah yang kini teronggok di selatan warung, menjadi saksinya. Setelah Pakde Wonogiri menempati ruko nomor 2 milik salah satu saudara.
“Kebetulan ruko ini punya saudara. Awalnya karena pertimbangan usia bapak yang sudah mendekati 70-an tahun, kami ingin semua bisa kumpul. Bapak tidak perlu jauh-jauh di Lampung,” ucap Owner Pakde Wonogiri, Dwi Antar Wibawa, saat ditemui Radar Jogja (3/6).

Menurutnya, soal cita rasa biasanya lebih subjektif bagi pelanggan, namun untuk urusan porsi yang jumbo sangat riil. Pertama mencoba, siapa saja pasti akan kaget dengan porsinya, seperti dua porsi mi ayam kebanyakan disatukan dalam satu mangkuk.

Irisan daging ayam (toping) rapat di atas mi, menggunung, kuah luber-luber sampai teras piring di bawah mangkuk. Brutal! “Porsinya memang banyak yang bilang brutal, minya banyak, ayamnya juga banyak,” kata generasi kedua pewaris warung Pakde Wonogiri ini.

Dijelaskan, sejarah Pakde Wonogiri berangkat dai kerja keras sang bapak di Bunga Mayang, Lampung Utara. Pakde Wonogiri menjadi langganan tetap para pekerja PTPN (Pabrik Gula) sejak tahun 90-an di Lampung. “Bapak itu kelahiran Wonogiri, namun sejak usia 7 tahun diajak kakek transmigrasi di Lampung. Dari situ asal nama Pakde Wonogiri. Di Lampung dulu lebih dikenal dengan nama mi ayam Pakde. Wonogiri diambilkan dari tempat kelahiran bapak. Nama Wonogiri juga sangat lekat dengan pecinta mi ayam dan bakso,” jelasnya.

Photo
Photo


Menurutnya, untuk urusan pemasaran ia lebih suka menyebut seperti rezeki atau takdir. Kendati demikian ia sangat percaya dengan medsos sebagai jimat pelaris. Ia mengakui kehebatan media sosial, kebiasaan konsumen memfoto makanan terlebih dahulu kemudian di-share ke teman-teman lainnya sebelum menyantap hidangan.

“Sudah menjadi kebiasaan ya begitu. Sebelum makan difoto dulu, dan itu secara tidak langsung promosi gratis yang luar biasa dampaknya. Efektif sekali,” ujarnya.

Kebanyakan mereka yang datang berangkat dari rekomendasi teman atau saudara. Sekali lagi tidak mengesampingkan rasa, namun porsi atau tampilan yang beda itu lebih mudah dibuktikan bagi mereka yang kali pertama mencoba. Setelah makan, mereka biasanya membuat testimoni sendiri dan menceritakan secara getok tular ke teman atau kerabat lainnya. “Kami juga punya Instagram, Facebook, dan aplikasi lainnya. Kami juga terbantu pemberitaan media massa,” katanya.

Menurutnya, mi ayam dan bakso adalah makanan sejuta umat. Memiliki segmen luas, semua kalangan ada, anak-anak, dewasa hingga tua. Menengah ke bawah atau menengah ke atas ada. Mau yang datang naik sepeda atau naik mobil Alphard rata, sama-sama duduk menunggu pesanan di depo Pakde Wonogiri yang kini sudah menempati tiga kios ditambah lahan beratap dan meja di sisi selatan ruko.

“Kebanyakan mereka datang saat jam makan siang ketika hari aktif. Saat libur (weekend) sore pukul 13.30 sudah penuh. Kebetulan depan ini jalan perlintasan para wisatawan dari Jogja ke dan dari Kulonprogo. Kebanyakan selepas berwisata di Perbukitan Menoreh mereka mampir, mau langsung ke Jogja, sudah dekat jalan utama,” ujarnya.

Warung Pakde Wonogiri benar-benar ramai saat ini. Jika awalnya hanya diurus sendiri oleh sang owner dan dibantu keluarga, kini warung ini mempekerjakan 12 karyawan. Buka rutin mulai pukul 10.00 dan sebelum pukul 19.00 sudah habis. Banjir pembeli semakin menggila setelah ada kelonggaran pandemi Covid-19. “Kalau sehari rata-rata 300 mangkuk habis. Kalau omzet Alhamdulillah di atas Rp 100 juta per bulan,” ucapnya.

Salah seorang pembeli, Diah Arum, warga Galur, Kulonprogo mengungkapkan, ia tahu warung mi ayam dan bakso Pakde Wonogiri dari laman media sosial. Ia penasaran ingin mencoba bakso Gunung Merapi. “Penasaran ingin membuktikan, dan ternyata memang gede banget, rasanya masuk sih. Harganya juga ramah di kantong menurut saya. Bakso Rp 25 ribu per porsi, puas sekali,” ungkapnya.

Pembeli lainnya, Dewi Anggi, 20, warga Kulonprogo mengatakan hal senada. Ia juga mengaku baru kali pertama mencoba menu Pakde Wonogiri. “Saya mendapat rekomendasi temen sih, katanya di sini mi ayamnya brutal dan enak. Setelah saya coba beneran enak sih. Porsinya juga luar biasa, satu mangkuk untuk berdua kali ya. Kalau sendiri tidak habis. Satu lagi, harus sabar karena antre panjang, ramai sekali,” katanya. (tom/laz)

 

  Editor : Editor Content
#Pakde Wonogiri #Kulonprogo