Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hilangkan Kesan Seram, Kolaborasi Street Art dan Lapas Wirogunan

Editor News • Rabu, 1 Juni 2022 | 06:29 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Lapas Kelas IIA Wirogunan Jogjakarta berkolaborasi dengan artis street art lintas negara. Wujudnya adalah menghiasi dinding lapas sisi luar dengan coretan grafiti. Tepatnya pada dinding sisi utara yang berbatasan langsung dengan pemukiman warga.

Koordinator para artis street art Kristianto menuturkan tak ada tema khusus. Seluruh artis dibebaskan dalam mengekspresikan diri. Baik tentang kisahnya secara personal atapun respon atas kondisi di sekitar Lapas Wirogunan.

"Konsepnya spontan saja, kita habis ada acara di Karanganyar lalu ingin maen ke Jogja. Salah satu tujuannya menggambar. Saya carikan tempat, lalu ijin pak Kalapas," jelasnya ditemui di lokasi, Selasa (31/5).

Para seniman yang datang berasal dari lintas negara. Sebut saja asal Rusia, Meksiko, Thailan, Kualalumpur, Vietnam, Inggris dan beberapa negara lainnya. Totalnya setidaknya ada lebih dari 30 seniman yang terlibat.

Photo
Photo


Sebelum datang ke Jogjakarta, seluruhnya baru saja mengikuti Meeting of Styles Graffiti Jamming Festival 2022. Merupakan ajang internasional yang mempertemukan para artis street art.

"Pokoknya ini tema bebas sesuai style atau gambar. Ini spontan saja buat seru-seruan di Jogja," katanya.

Terkait pemilihan lokasi, diakui olehnya menjadi tantangan tersendiri. Ini karena dinding penjara telah berusia cukup tua. Belum lagi kondisi jamur dan lumut di sejumlah dinding lapas Wirogunan.

Alasan lain adalah menghilangkan kesan seran. Anto meyakini bahwa pandangan masyarakat tentang lapas salah. Tak hanya berbicara penjara tapi pintu pertobatan atas tindakan kriminal.

"Kalau memilih tempat ini teman-teman dan orang awam menilai penjara seram. Mungkin dengan adanya grafiti menghilangkan kesan seram," ujarnya.

Kalapas Wirogunan Soleh Joko Sutopo menuturkan kegiatan ini adalah kali kedua. Sebelumnya dinding sisi depan juga mendapatkan perlakuan yang sama. Bedanyavpara street art yang terlibat didominasi dari sekitar Jogjakarta.

Adanya kolaborasi ini juga upaya mengubah stigma masyarakat. Bahwa penjara adalah gudangnya dosa dan narapidana. Menjadi tempat yang humanis bagi semua orang.

"Juga memberikan tempat kepada seniman untuk berkreasi, tembok jadi wahana sendiri. Nanti juga termasuk wisatawan karena berada di lingkungandekat dengan kampung warga. Nanti bisa menjadi daya tarik," katanya. (Dwi) Editor : Editor News
#street art lapas #Dinding penjara #Lapas kelas IIA Wirogunan #grafiti penjara