"Hepatitis (misterius) tidak ada beritanya, belum ada laporan dari Dinkes," jelasnya ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Selasa (24/5).
Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini justru menyinggung kasus penyakit mulut dan kuku (PMK). Diketahui bahwa penyakit ini telah terdeteksi di Jogjakarta. Terbukti dengan adanya hewan ternak yang terpapar di Kabupaten Sleman dan Kulonprogo.
Terhadap kondisi ini, HB X meminta masyarakat lebih waspada. Terutama dalam membeli hewan ternak. Untuk memastikan kondisi kesehatan dan kelengkapan surat keterangan sehat dari instansi terkait.
"Segera dilokalisir agar tidak menjalar, karena Kulonprogo sudah kena. Jangan seperti pengalaman di Gunungkidul kemarin, agak terlambat. Sapi yang mati (akibat anthrax) dimakan, yang diobati wong'e (orangnya)," katanya.
Dekan FKKMK UGM Ova Emilia menuturkan penelitian tentang Hepatitis misterius masih berlangsung. Guna memastikan penyebab virus ini berbahaya. Kondisi ini juga pernah terjadi saat awal pandemi Covid-19.
"Gejala itu munculnya cepat, ini pasti ada mutasi dan ini masih mencari. Ini sama hebohnya apa yang membuat covid mematikan. Semua kemungkina tetap ada indikator diagnosisnya," bebernya.
Para peniliti, lanjutnya, terdiri dari berbagai konsentrasi ilmu. Termasuk didalamnya ahli Gastro Hepatologi. Ini karena kemunculan awal kasus justru menyerang usia anak.
Catatan kasus di Jawa Timur dan Jakarta, virus misterius ini menyerang usia anak. Seluruhnya terdeteksi telah terpapar Hepatitis. Hanya saja belum bisa dipastikan jenis dari Hepatitisnya.
"Ini masih didalami, basisnya tidak sama seperti (Hepatitis) biasanya. Sebenarnya Hepatitis itu bisa anak dan dewasa tapi kebetulan yang banyak yang kena diawal ini anak-anak," ujarnya.
Untuk laboratorium pemeriksaan sampel, Ova meyakini siap. Hanya saja untuk saat ini belum memiliki Reagen. Komponen ini sebagai pendeteksi dini atas paparan virus Hepatitis misterius.
Dia juga meyakini instasi terkait tak ingin terburu-buru. Ini karena penyebab utama virus Hepatitis misterius belum terdeteksi. Sehingga belum bisa dipastikan acuan sampel pendeteksi virus.
"Jogja untuk laboratorium itu ada, tapi tetap tergantung reagennya. Tapi memang harus dipastikan dulu apa penyebab utamanya. Kalau alat PCR sama tapi metode, reagen dan step (langkah pemeriksaan) yang berbeda," katanya.
Rektor UGM terpilih 2022-2027 ini memberikan sejumlah tips mencegah terpapar Hepatitis misterius. Paling utama adalah pola hidup bersih dan sehat. Selalu mencuci tangan saat sebelum makan. Juga pastikan alat makan dalam kondisi bersih dan steril.
"Tapi yang penting cuci tangan, mencegah adanya kontaminasi melalui tangan. Saya kira untuk saat ini, cara ini pencegahan yang paling penting," ujarnya. (Dwi)
Editor : Editor News