Fenomena ini dapat dijumpai di Indonesia dan dampaknya sangat terasa di kehidupan sehari-hari. Terutama pada generasi milenial. Perkembangan teknologi informasi yang masif akibat adanya globalisasi, menjadi faktor utama penyebab besarnya antusiasme publik terhadap Korean Wave di Indonesia.
Korean Wave sendiri diawali dan sangat identik dengan dunia hiburan. Antara lain musik, drama, dan variety shows yang dikemas secara apik menyajikan budaya-budaya Korea. Seiring berjalannya waktu, budaya Korea banyak diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari para pecinta budaya Korea.
Mulai fashion, make up, korean skincare, makanan, gaya bicara, hingga bahasa.
Salah satu produk Korean Wave yang sangat diminati kaum milenial adalah musik pop. Musik pop Korea ini atau yang sering disebut sebagai K-Pop. Ini merupakan salah satu sub-sektor hiburan yang mengangkat perekonomian Korea Selatan.
Indonesia bahkan dikenal memiliki fanbase yang besar dan loyal dalam dunia K-Pop. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai ‘pasar’ yang sangat potensial untuk perekonomian Korea Selatan dengan adanya Korean Wave.
Nah, Korean Wave ini ternyata sampai merambah pada bisnis baju bekas atau thrifting. Tampilan idol K-Pop jadi panutan penggemar. Bahkan untuk pakaian bekas serupa, yang pernah dikenakan oleh idolanya. Radar Jogja berhasil mewawancarai salah seorang pelaku thrifting di Kota Gudeg. Dia bernama lengkap Nur Azizah, 33.
“Thrift, barang dari Korea diminati,” sebutnya saat diwawancarai di toko baju bekas miliknya, Pandeyan, Umbulharjo, Kota Jogja. Pakaian ala K-Pop yang paling digemari adalah jenis hoodie dan crewneck.
Selain itu, pakaian dengan gaya crop top atau tangan balon juga jadi incaran. “Biasanya, anak-anak muda itu yang cari. Anak-anak kuliah gitu,” lontarnya.
Ibu dua anak ini memberi bocoran, sebetulnya dia mengambil baju bekas bukan hanya dari Korea. Tapi sebagian dari Jepang. Hal ini disebutnya tidak masalah, sebab gaya antara Korea dan Jepang cenderung mirip. Tapi untuk harga, pakaian dengan jenis sesuai gaya K-Pop dijual dengan harga lebih tinggi. “Kisaran kami jual Rp 30 ribu sampai Rp 45 ribu,” ungkapnya.
Perempuan yang sudah dua tahun belakangan menggeluti bisnis thrifting ini pun mengaku enggan mengimpor pakaian bekas dari selain Korea dan Jepang. Sebab, ukuran baju dari asal luar Asia, kurang diminati oleh warga lokal. “Kalau dari Amerika itu ukurannya besar-besar,” ucap Nur Azizah. (fat/laz) Editor : Editor Content