Diketahui bahwa kasus penyakit Hepatitis misterius ini telah menjangkiti 20 negara. WHO bahkan telah meminta setiap negara lebih waspada atas virus misterius ini. Terlebih mayoritas terjangkit adalah pasien usia anak.
"Belum ada laporan, baik dari puskesmas, dinas kesehatan kabupaten/kota ataupun rumah sakit," jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (9/5).
Walau begitu pihaknya tak ingin terlalu santai. Berkaca pada kasus Covid-19, sebelumnya, Pembajoen meminta seluruh jajaran lebih waspada. Apalagi adanya catatan tiga anak di DKI Jakarta dan satu anak di Jawa Timur meninggal dunia diduga akibat virus Hepatitis misterius.
Langkah antisipasi berupa koordinasi antar dinas kesehatan di Jogjakarta. Selain itu juga mengintensifkan komunikasi dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Guna menyampaikan ke fasyankes untuk edukasi serta informasi terkait penyakit ini.
"Serta melakukan sosialisasi PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Kalau ada kasus, segera dilaporkan ke aplikasi SIHEPI dan perlu dilakukan pemantauan," katanya.
Langkah antisipasi juga dengan pemetaan kasus. Berupa deteksi dini gejala Hepatitis di lingkungan masyarakat, khususnya anak. Berupa KIE dari IDAI dan IBI kepada orangtua, khususnya ibu.
Secara visual, dapat terdeteksi dari kondisi fisik anak. Terutama untuk warna feses anak. Selain itu juga warna kulit anak.
"Bila ada BAB yang kuning tua atau warna kulit berubah agak kekuningan untuk segera diperiksakan. Upaya pencegahan dengan menerapkan PHBS," ujarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja Emma Rahmi Aryani juga memastikan belum ada laporan kasus hepatitis misterius di wilayahnya. Walau begitu, pihaknya tetap waspada. Terlebih mobilitas masyarakat cenderung tinggi dalam kurun beberapa waktu saat ini.
Upaya preventif, lanjutnya, berupa surat edaran Dinas Kesehatan Kota Jogja. Berupa ajakan untuk meningkatkan kewaspadaan dari segala potensi penularan penyakit ini. Targetnya adalah seluruh sekolah yang ada di Kota Jogja.
"Kami juga edukasi dan sosialisasi lewat medsos kami. Utamanya PHBS, perilakunya kan kalau makan harus yang benar-benar matang. Kemudian cuci tangan dahulu. Sementara ini menghindari renang. Kita cegah dahulu lah karena kondisi kita tidak tahu," katanya. (Dwi) Editor : Editor News