Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Masjid Gedhe Kauman, Tonggak Syiar Islam di Jogjakarta

Editor News • Jumat, 8 April 2022 | 21:41 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Masjid Gedhe Kauman Jogjakarta merupakan salah satu masjid tertua di Jogjakarta. Masjid kagungan dalem ini dibangun pada 1776. Tepatnya satu tahun setelah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri.

Dalam sejarahnya, berdirinya masjid Gedhe Kauman memiliki filosofi. Pada jaman dahulu, pembangunan masjid untuk memperkuat nilai dan kesakralan Keraton. Selain bangunan keraton, adapula pasar, alun-alun dan masjid.

"Masjid Gedhe ini merupakan kelengkapan dari sebuah sistem kerajaan Ngayogyakarta, ketika dibangun Keraton ada pasar, alun-alun dan salah satunya masjid," jelas Ketua Takmir Masjid Gedhe Kauman Jogjakarta Azman Latief ditemui di Masjid Gedhe Kauman, Kamis (7/4).

Pasca pembangunan masjid, diperlukan beberapa orang yang yang merawat. Mulai dari imam, khotib yang bertugas rutin. Para warga yang terpilih ini lalu ditempatkan di sekitar masjid. Hingga munculah istilah kampung Kauman.

"Jadi masjid ini dibangun hampir bersamaan dengan Keraton. Itu setelah perjanjian Giyanti 1775 masjid ini 1776. Masjid ini sekaligus menjadi pusat dari penyiaran Islam oleh Keraton di Jogjakarta," katanya.

Azman menuturkan arsitektur dan kontruksi bangunan masjid masih asli. Masih mempertahankan bangunan awal 1776. Terutama untuk bangunan utama masjid.

Walau begitu ada beberapa arsitektur yang mengalami renovasi. Seperti bangunan serambi yang mengalami perombakan total. Tepatnya setelah peristiwa gempa besar di abad ke 18.

"Kebanyakan, terutama bangunan dalam masih asli. Serambi itu bangunan baru karena yang lama ambruk saat gempa di abad ke 18. Arsitektur masjid lentur kalau digoyang akan goyang semua, ambruk tidak patah. Beda dengan dari Beton, ini saling terkait sehingga kuat," ujarnya.

Seiring waktu berjalan, juga terjadi dinamika syiar Islam di Kauman. Ditandai dengan masuknya Persyarikatan Muhammadiyah. Kolaborasi ini melahirkan cara pandang yang baru.

Azman menuturkan syiar Islam tak hanya berbicara tentang ritual dan tradisi. Namun menjadi gerakan yang membangkitkan dan mencerahkan. Kondisi ini mulai terbentuk sejak abad ke 19 hingga saat ini.

"Sejak abad ke 19 mengalami perubahan sangat besar. Dari Islam yang hanya ritual tradisional berubah menjadi Islam yang berkemajuan," katanya. (Dwi) Editor : Editor News
#sejarah masjid Kauman #masjid Keraton Jogjakarta #lentera ramadan #Masjid Gedhe Kauman