Persoalan serius muncul ketika oknum produsen tempe mencampurkan bahan baku kedelai dengan kertas HVS dan kardus bekas. Kasus demikian sempat terjadi di suatu daerah di wilayah Jawa Barat.
Tim Buser Investigasi televisi swasta nasional mendokumentasikan dan menayangkan kejadian tersebut awal Maret 2022. Produsen tempe menjelaskan, kertas HVS bekas dijadikan bubur kertas untuk dicampur dengan kedelai. Bubur kertas tersamar oleh jamur hasil fermentasi dari ragi tempe.
“Ini cara saya tetap bisa memproduksi tempe pada waktu harga kedelai mahal,” kata produsen yang tak mau disebutkan namanya ini.
Menanggapi itu, Ahli Teknologi Pangan dan Gizi Universitas Widya Mataram (UWM) Ambar Rukmini menaruh perhatian terhadap kasus tersebut. Baginya, kiat oknum produsen tempe itu masuk kategori inovasi. Meski demikian hal ini tidak dapat dibenarkan.
Caranya mengurangi volume bahan baku kedelai. Untuk kemudian menggenapi dengan bubur kertas bekas. Konsumen, lanjutnya, sulit mengecek tempe yang tercampur bahan baku kertas.
“Jika tempe dengan bahan baku campuran kertas itu dimakan, tentu saja ada bagian yang tidak dapat dikunyah hingga lembut, yang berasal dari kertas tersebut. Apakah setiap konsumen bisa merasakan itu? Itu hanya bisa dideteksi oleh lidah konsumen yang cermat,” jelasnya melalui rilis yang dikirim, Jumat (25/3).
Dia menjelaskan kertas maupun karton terbuat dari pulp atau serat kayu. Bahan ini diproses ulang menjadi bubur kertas. Kemudian mengalami proses bleaching atau pemucatan dengan menggunakan bantuan larutan Hidrogen Peroksida (H2O2). Lalu ditambah pewarnaan dan pencetakan.
Unsur H2O2 itu menjadi larutan yang bisa membahayakan kesehatan orang. Terlebih setelah mengkonsumsi tempe berbahan baku campuran kertas atau karton.
“Hidrogen Peroksida merupakan bahan kimia yang berbahaya jika masuk sistem pencernaan, dapat menyebabkan iritasi atau tukak lambung yang disertai gejala mual, muntah, atau bahkan muntah darah," katanya.
Menurutnya, produsen tempe memiliki alasan kuat atas penggunaan kedelai impor. Hal ini karena produk dari negara lain dinilai lebih mengembang dari kedelai lokal. Setiap kedelai impor dapat mengembang menjadi 1,6 hingga 1,8 kilogram. Sementara kedelai lokal hanya mencapai 1,4 hingga 1,5 kilogram.
Ambar mengatakan para produsen perlu melirik kedelai lokal sebagai bahan baku tempe. Ini karena ahli pangan nasional telah menemukan kedelai unggulan.
Tim Peneliti Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada sukses mengembangkan Smart Agricultural Enterprise (SAE) untuk kedelai lokal berbasis penerapan IPTEK.
Ambar mengatakan budidaya kedelai program SAE mampu menghasilkan 3,2 hingga 4,2 ton kedelai per hektare. Sementara untuk budidaya konvensional hanya mampu menghasilkan 1,4 hingga 2,3 ton kedelai.
“Ini bisa dimaknai, ketersediaan kedelai lokal menjadi meningkat tajam dan mampu menekan keberadaan kedelai impor. Maka petani perlu mengalihkan bahan baku kedelai impor ke kedelai lokal," ujarnya. (sce/isa/dwi) Editor : Editor News