Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mau Irit Minyak, Gasnya Jadi Boros

Editor Content • Jumat, 18 Maret 2022 | 15:02 WIB
Ilustrasi penjual dan minyak goreng. (MEITIKA CL/RADAR JOGJA)
Ilustrasi penjual dan minyak goreng. (MEITIKA CL/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Harga minyak goreng kemasan telah dikembalikan ke pasaran dan HET minyak goreng curah dinaikkan dari Rp 11.500 menjadi Rp 14 ribu per liter. “Stoknya di Sleman ada. Silakan dicek ke toko-toko, harga sudah sangat variatif, Rp 14 ribu sampai 20 ribu ada,” ungkap Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman Nia Astuti di Maguwoharjo, kemarin (17/3).
Demikian juga di pasar tradisional, setelah dilakukan pengecekan didapati kisaran Rp 17.000. Bahkan ada juga yang sudah di atas Rp 25.000 per liternya.
Sejauh pemantauan, dikatakan Nia, harga di Sleman masih wajar. Karena beberapa pedagang tidak langsung membeli ke distributor. “Karena stok hari ini di level distributor saja kami dapat info sudah di harga Rp 23.000 (kemasan per liter, Red),” terang Nia.
Minyak curah terus dilakukan pemantauan, kendati begitu di pasar masih belum bisa mengikuti HET. Disperindag Sleman masih menjumpai minyak curah dijual di atas HET.
Migor curah dijual kisaran Rp 14 ribu sampai 18 ribu per kg. “Kami masih analisa dan menelisik, sudah dibantu satgas pangan, harga minyak curah di pasar masih tinggi,” tuturnya.
Penjual gorengan di Maguwoharjo, Depok, Sleman, Wiwid Yohanes Tri Wibowo, 34, tak khawatir harga migor naik. Asal masih di bawah Rp 20 ribu per liter. Kendati begitu, pemerintah harus menjamin ketersediaannya.
“Jangan sampai migor naik jadi langka. Istri saya orang Sumatera di sana perkebunan kelapa sawit melimpah, kalau sampai langka berarti ada sesuatu,” ujar Wiwid geram. Lanjut Wiwid, bisa jadi ada potensi penyelewengan.
Disebutkan, selama harga minyak di bawah Rp 20 ribu, penjual gorengan seperti dia masih mampu membanderol Rp 1.000 per biji. Bila minyak sudah melampaui itu, mau tak mau ia akan menaikkan harga.
“Alhamdullilah selama ini masih bisa dapat minyak goreng curah dari langganan saya. Harganya di atas HET, setiap hari ada tapi dibatasi maksimal beli 2 kg per hari,” katanya.
Adanya pembatasan pembelian itu, terpaksa dia harus berhemat minyak. Bila sebelumnya minyak yang dituang ke penggorengan melimpah, saat ini kurangi. Tetapi yang tidak bisa dihindari justru memperlambat proses penggorengan dan boros gas elpiji. “Ya mau nggak mau jadi boros gas,” tandasnya.

Di Purworejo Kisaran Rp 23.900 Per Liter

Harga minyak goreng kemasan kini kembali ke harga ekonomis masing-masing. Kebijakan satu harga Rp 14 ribu per liter sudah berakhir. Hal ini rupanya sudah berlaku di sejumlah toko dan pasar di Kabupaten Purworejo.
Misalnya di salah satu toko modern di sekitar Alun-Alun Purworejo, harga migor Rp 23.900 per liter dan harga kemasan dua liter di harga Rp 47.800. Sementara untuk di pasar tradisional, harga masih bervariasi di kisaran Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per dua liter.
“Rata-rata di kisaran harga Rp 275 ribu per dus, sekitar Rp 22 ribu sampai Rp 23 ribu per liter. Untuk saat ini, di tempat saya semua merek sama harganya,” ungkap Rifai Apin, salah seorang pedagang di Pasar Baledono Purworejo kepada Radar Purworejo kemarin (17/3).
Salah seorang warga Retno Wanti, 30, mengaku pasrah dan mengikuti kebijakan dari pemerintah pusat. “Sudah pasrah saja yang penting kebutuhan minyak goreng untuk masyarakat dapat terpenuhi. Semoga setelah ini tidak terjadi kelangkaan lagi,” harapnya. (mel/han/din/laz) Editor : Editor Content
#Migor