Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Siti Munifah menyatakan, 70 persen struktur dan komposisi penduduk Indonesia merupakan para milenial.
Oleh karena itu, pemerintah serius dalam mengarahkan dan membina kaum muda. Agar mereka mampu menggali potensi di sekitarnya. Khususnya di bidang pertanian. Didukung teknologi modern, petani milenial dinilai memiliki peran penting dalam peningkatan hasil produksi pertanian. "Petani milenial menjadi energi baru guna membangun potensi pertanian di desanya," ungkap Siti saat kunjungan kerja di Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YoMa), Jumat (4/3).
Menurut Siti, potensi pertanian bisa menjadi sumber lapangan pekerjaan yang luar biasa bagi petani milenial. Itu jika mereka mampu mengelolanya dengan baik dari hulu ke hilir.
Siti menegaskan, bisnis di bidang pertanian bukanlah hal yang menjijikkan dan tidak akan memiskinkan pelakunya. Justru ada peluang bisnis luar biasa yang bisa digali. Terlebih di bidang penyediaan pangan. Baik tanaman pangan seperti umbi dan padi, ternak, dan lainnya. Kendati demikian, hal itu membutuhkan perubahan pola pikir atau mindset anak-anak muda untuk meraih peluang tersebut. "Mereka harus mampu membangun lingkungan bisnis yang terstruktur," tegasnya.
Siti optimistis, kaum milenial melek teknologi. Sehingga mereka mampu memanfaatkannya untuk mendukung bisnis yang dijalani. Misalnya pemanfaatan internet, robotik, atau mekanisasi alat dan mesin pertanian.
Seperti halnya Rayndra Syahdan Mahmudin. Dia adalah seorang di antara ratusan duta petani milenial Kementan yang sukses membangun sektor pertanian di sekitar tempat tinggalnya. Khususnya di bidang peternakan kambing. Kini petani milenial yang tinggal di Dusun Semen, Trenten, Candimulyo, Kabupaten Magelang, itu mulai mendalami peluang bisnis pengolahan hasil kelapa.
Alumnus Polbangtan YoMa Kampus Magelang Jurusan Peternakan itu mengatakan, petani milenial menjadi harapan dalam pembangunan pertanian di Indonesia. Mereka menjadi pionir pesatnya perkembangan inovasi teknologi pertanian. Menurutnya, hal itulah yang kemudian meningkatkan nilai jual sektor pertanian.
Selama ini Rayndra dan petani milenial lainnya selalu mendapatkan dukungan dari BPPSDMP Kementan. Selain difasilitasi membangun jaringan antarpetani milenial, mereka juga mendapat beragam pelatihan yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan bisnis pertanian. "Jaringan para petani milenial bisa menambah wawasan dan meluaskan jejaring kami dalam berbisnis," ujar Rayndra di sela menerima kunjungan Siti Munifah dan rombongan dari Polbangtan YoMa.
Rayndra menyebut, potensi bisnis yang bisa dikembangkan di desanya cukup banyak. Seperti peternakan kambing, bebek, dan sapi. Ada pula budidaya jagung, pengolahan kelapa terpadu dan tanaman hias. "Semoga ke depan para petani milenial bisa bergandengan tangan menciptakan inovasi baru. Untuk meningkatkan produktivitas pertanian," harapnya.
Hal tersebut sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL). Mentan SYL mengatakan, penumbuhan petani milenial dan pemanfaatan inovasi teknologi mutlak dilakukan. Menurutnya, teknologi dan petani muda akan menjadi andalan dalam pembangunan pertanian ke depan.” Agropreneur muda yang melek teknologi adalah potensi yang luar biasa,” ujarnya.
Demikian pula yang disampaikan Kepala BPPSDMP Kementan Dedi Nursyamsi. Saat ini dunia pertanian sedang menjalani tranformasi. Dari pertanian tradisional ke modern. “Pertanian modern harus memanfaatkan teknologi secara masif,” tutur Dedi.
Direktur Polbangtan YoMa Bambang Sudarmanto menambahkan, anak muda ingin semuanya serba mudah. Serba bersih. Nah, aplikasi teknologi menjadi cara untuk menarik minat anak muda agar mau terjun ke dunia pertanian. Sehingga target penumbuhan petani milenial bisa tercapai. “Kami berkomitmen mendukung Kementan untuk meresonansi penumbuhan petani milenial. Dengan target sebanyak 2,5 juta perani milenial hingga 2024," katanya. (aya/yog) Editor : Editor Content