Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bersih-Bersih Rumah, Masak sebelum Jalan 1,5 Km ke Sekolah

Editor Content • Senin, 21 Februari 2022 | 14:53 WIB
KENANGAN: Ahmad Athoillah menyerahkan buku kepada Sutedjo dalam bedah buku di Balai Kalurahan Wijimulyo, Kapanewon Nanggulan.(HENDRI UTOMO / RADAR JOGJA)
KENANGAN: Ahmad Athoillah menyerahkan buku kepada Sutedjo dalam bedah buku di Balai Kalurahan Wijimulyo, Kapanewon Nanggulan.(HENDRI UTOMO / RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Kecintaan Muhammad Wahid pada ibunya Wagini, tak terbantahkan. Di saat Wagini tak bisa banyak beraktivitas, karena sakit, Wahid mendedikasikan waktunya mendampingi ibunya. Bahkan merelakan waktu bermain dan sekolahnya. Berikut kisahnya.

IWAN NURWANTO, Radar Jogja, Kulonprogo

Membawa bendo, dengan sigap Muhammad Wahid naik ke pohon kelapa. Ada jika sekitar delapan meter tingginya pohon. Tapi Wahid tak kesulitan menaikinya. Beberapa buah kelapa pun dijatuhkannya. Kemudian turun. Belum selesai, bocah delapan tahun itu pun masih harus membukanya.

Ya, itulah salah satu kegemaran Wahid. Ketika Radar Jogja mendatangi rumahnya di Padukuhan Sambiroto, Banyuroto, Nanggulan, Kulonprogo, kemarin (20/2), Wahid tak mau difoto. Wahid juga diketahui memang sosok anak yang pemalu, jika banyak teman sebayanya yang bermain bersama. Anak itu justru memilih bermain sendiri dengan mobil-mobilan dan kucing peliharaanya.

Beberapa kali dia menghindar. Bahkan lari ke pekarangan rumahnya. Tiba-tiba saja Wahid naik ke pohon kelapa. “(Wahid) suka naik pohon kelapa, karena kakaknya tidak pernah bagi kelapa,” ujar Wagini saat berbincang dengan Radar Jogja.

Kakak Wahid, Iwan Nursalam sering dimintai tolong tetangga untuk mengambil kelapa. Tapi bocah 14 tahun itu tidak pernah membaginya ke adiknya. Sehingga Wahid, suka curi-curi kesempatan naik sendiri ke pohon kelapa. “Kalau ketahuan kakeknya pasti dimarahi,” ujar Wagini tersenyum.

KREATIF: Mahasiswa UNY Nurhuda Ihram Faihan mengolah singkong menjadi kue sus, makanan kekinian. HUMAS UMY FOR RADAR JOGJA
KREATIF: Mahasiswa UNY Nurhuda Ihram Faihan mengolah singkong menjadi kue sus, makanan kekinian. HUMAS UMY FOR RADAR JOGJA


Di balik sifatnya yang masih seperti anak-anak lainnya, Wahid sudah punya tanggung jawab. Di usianya yang masih sangat belia tersebut, Wahid rela mengorbankan masa kecilnya, bahkan pernah hampir putus sekolah agar bisa merawat ibunya yang sedang lumpuh.

Tubuh Wahid memang masih kecil, tapi bakti kepada orang tuanya melebihi ukuran badannya. Setiap pagi, bocah kelas dua sekolah dasar itu rutin membantu ibunya yang lumpuh untuk melakukan berbagai hal. Mulai dari memasak, membersihkan rumah, mencari kayu bakar, hingga mengantar ibunya pergi ke kamar mandi. “Tidak pernah disuruh, masih sekolah hanya sering tidak masuk, karena kondisi (Wagini) yang tidak memungkinkan,” jelasnya.

Wagini sendiri sejak pertengahan tahun 2021 lalu sudah menderita lumpuh. Dia didiagnosa menderita Autoimun yang membuat beberapa bagian tubuhnya tidak bisa bergerak. Ibunda kandung Wahid ini sudah ditinggal suaminya pergi sejak anak bungsunya itu berusia satu tahun lantaran dulu pernah berselisih paham. “Jadi meski hidupnya begini jangan sampai Wahid putus sekolah,” ujar Wagini.

Kehidupan Wahid memang pilu, sejak umur satu tahun ia sudah ditinggal bapaknya. Ia hanya tinggal bersama ibunya Wagini,40, kakaknya Iwan Nursalam,14 dan kakeknya Mbah Kromo,89.Ia juga tak seberuntung bocah lainnya yang bisa bebas bermain agar masa kecilnya lebih berwarna.

Dalam kesehariannya, bocah delapan tahun itu membagi waktu untuk sekolah dan membantu sang ibu. Pagi-pagi sekali, Wahid sudah membakar kayu agar tungkunya bisa menyala supaya bisa dibuat untuk memasak. Setelah itu, Wahid pun mandi dan bergegas berangkat sekolah ke SD Negeri Banyuroto. Jarak dari sekolah ke rumah juga cukup jauh sekitar 1,5 kilometer dan melewati jalanan sawah. Pulang-pulang sekolah Wahid sudah kembali membantu ibunya lagi.

Lahir di keluarga yang serba pas-pasan memaksa bocah itu untuk hidup keras. Rumahnya yang beralamat di RT 43/RW 15 Padukuhan Sambiroto itu pun hanya berdinding bambu serta beralas tanah. Bahkan bocah pendiam itu pun sempat membulatkan tekad untuk berhenti sekolah agar bisa membantu keseharian ibunya.

Sesekali bahkan Wahid juga menerima berbagai pekerjaan serabutan. Mulai dari membantu tetangganya untuk memetik kelapa dengan upah seikhlasnya sampai pergi ke sawah bersama kakeknya untuk merawat ladang. Meski begitu, bisa sekolah tinggi menjadi salah satu harapan sang ibunda. “Pengennya bisa dapat pendidikan hingga sarjana agar hidupnya bisa lebih berada,” kata Wagini menahan haru.

Dihadapkan dengan hidup serba susah membuat Wahid tumbuh menjadi sosok yang rajin dan tangguh. Wagini menceritakan, setiap hari di sekolah maupun di rumah anaknya itu juga tak pernah mengeluh lelah. Wagini pun berharap agar suatu hari nanti dirinya bisa sembuh. Sehingga nanti anaknya itu tidak lagi kerepotan mengurusi segala kebutuhan rumah dan bisa fokus sekolah. Ia pun selalu berdoa agar anaknya itu bisa meraih cita-cita agar sehingga masa depannya nanti bisa lebih bahagia dari kehidupannya saat ini. “Saya sebagai ibu juga selalu mendorong agar Wahid jangan putus asa dengan hidupnya dan harus bertekad meraih cita-citanya,” harap Wagini. (pra) Editor : Editor Content
#Kulonprogo