WULAN YANUARWATI, Jogja, Radar Jogja
April, demikian ia biasa dipanggil, tidak pernah mematok harga seperti kelas yoga pada umumnya. Bahkan dia mengaku pernah tidak dibayar dan merasa tidak dirugikan sama sekali.
“Ya, saya membuka kelas yoga berdasarkan permintaan. Dan pay as you wish, kalau gak punya uang ya gak usah bayar. Saya bahagia bisa berbagi ilmu dan juga ketika yoga ada teman jadi lebih bersemangat,” ujarnya ketika ditemui Radar Jogja (14/2).
Baginya, yoga tidak hanya sebatas mengolah tubuh untuk kesehatan, namun juga mengolah batin dari ego dan sifat ketergantungan terhadap hal-hal yang bersifat materialistik. Itulah yang menjadi dasar mengapa dia tidak membebankan tarif kepada orang yang membutuhkan jasanya.
Terlebih dia mengaku prihatin karena melihat banyaknya fenomena kelas yoga yang memasang tarif mahal dan terkesan eksklusif, sehingga tidak semua orang bisa mengikuti secara rutin. Bahkan April memiliki pengalaman pahit karena tidak mendapatkan pelayanan yang bagus dari instruktur yoga sebelumnya, hanya karena berbeda ras. Padahal sudah membayar sama seperti teman-temannya.
“Saya sangat menyayangkan fenomena ini ya, karena sangat jauh dari apa yang saya pelajari di negara asalnya, di mana yoga itu untuk menurunkan ego dan menjauhkan diri dari sifat-sifat materialistik,” ujarnya.
April berharap yoga dapat diakses semua orang dengan berbagai latar belakang tanpa melihat suku, ras, dan berapa penghasilan yang dimiliki seseorang. Kemarahannya mendapat pengalaman pahit telah dibuktikan dan diubah menjadi hal yang baik dengan membuka kelas yoga tarif seikhlasnya.
“Saya berharap yoga menjadi gaya hidup yang bisa kita spread untuk kebahagiaan dan kesehatan bagi sesama. Siapa saja, tanpa harus berlabel eksklusif dalam arti hanya orang berduit yang bisa yoga,” tandasnya.
April lalu menceritakan pengalaman belajar yoga dari negeri asalnya, India, Februari 2019. Dia memberanikan diri untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai hotelier di salah satu hotel bintang 5 di Pulau Bintan, Kepulauan Riau.
“Saya memberanikan diri mendaftar yoga teacher training 300 jam di Mysore Karnataka, India. Kenapa India, karena yoga lahir di India dan saya ingin belajar lebih dalam. Bukan hanya gerakan-gerakannya, tapi juga filosofi dan spiritualnya,” ungkapnya.
Belajar yoga di India ditempuh selama hampir dua bulan dengan lebih dari 70 siswa yang mayoritas dari Eropa. Hanya delapan orang saja yang berasal dari Asia seperti Korea, Taiwan, dan Indonesia. April menyebut belajar yoga di India jauh dari kemewahan dan dari situlah justru esensi yoga kemudian dapat diperoleh.
“Belajar yoga di sana sangat jauh dari bayangan kemewahan. Kami belajar di yoga shala (aula setengah terbuka, Red) dengan bangunan sederhana dari bahan-bahan alam. Bukan yoga studio seperti yang saya lihat di Indonesia pada umumnya. Seragam juga boleh kaos dan celana longgar nyaman, bukan legging dan sport bra. Kami tidak diizinkan berpakaian terbuka selama belajar,” jelasnya.
Bukan hanya belajar gerakan yoga dan spiritual mengolah jiwa, di sana juga sudah termasuk full board, sehingga makan diatur menurut yogic diet. Tidak boleh sembarangan keluar dari ashram. Semua hal sudah terjadwal.
“'Kami juga belajar filosofi dan sejarah yoga berdasarkan patanjali yoga sutra, basic ayurveda, body purification, kirtan (music and mantra), natomi tubuh secara kedokteran karena master yoga kami seorang dokter,” ujarnya.
April juga wajib melakukan karma yoga dengan bekerja untuk kepentingan umum tanpa imbalan. Misalnya tugas-tugas membersihkan toilet, shala, ashram dan juga membantu mempersiapkan makanan untuk seluruh siswa masing-masing, sudah ada pembagian tugasnya.
“Saya mendapatkan banyak sekali pengalaman dan pengetahuan tentang yoga secara keseluruhan sebagai gaya hidup, bukan sekadar olahraga. Ketika saya pulang ke Indonesia, saya benar-benar bahagia dan merasa menjadi manusia baru,” ungkapnya.
Upaya April membuka kelas dengan tarif seikhlasnya ini, disambut baik oleh pemilik Kopi Kalasan Sri Hardiaty, karena juga memiliki misi yang sama dengan tidak memasang tarif saat menggunakan venue untuk kelas yoga. “Dengan senang hati saya akan berbagi pengetahuan untuk siapa saja yang tertarik dengan yoga. Bukan sebagai instruktur yoga, tapi sebagai sesama manusia yang ingin belajar. Saya kenal Bu dari tahun 2010 dan beliau juga sangat murah hati, jadi tidak mematok biaya untuk sewa tempat,” papar April. (laz) Editor : Editor Content