Melihat kondisi itu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berupaya mencari solusi dengan menyediakan pil KB yang aman bagi ibu menyusui. Pil KB itu mengandung hormon progestin, sehingga tidak mempengaruhi produksi ASI dan tidak mengganggu kelancaran dalam pemberian ASI eksklusif bagi anak.
“Pil KB ini sangat efektif karena tidak mempengaruhi air susu ibu, termasuk anak yang disusui. Efek samping juga sangat kecil,” ujar Kepala Perwakilan BKKBN DIJ Shodiqin saat launching pil KB bagi ibu menyusui sekaligus kegiatan bakti sosial HUT ke-17 RSKIA Sadewa kemarin (27/1).
Dia berharap setelah melakukan persalinan, ibu bisa segera ikut program KB dengan alternatif pil KB menyusui yang aman. Pihaknya menggandeng rumah sakit agar dapat mensosialisasikan dan memberikan alternatif tersebut.
“Setelah melahirkan diharapkan ikut program KB. Begitu melahirkan, pulang mendapatkan minimal tiga trip untuk tiga bulan,” ujarnya.
Sebelumnya, program pil KB aman bagi ibu menyusui sudah digalakkan oleh pemerintah pusat pada pertengahan Januari 2022. Program ini wajib diikuti seluruh provinsi melalui BKKBN perwakilan yang diteruskan pada setiap kabupaten dan kota.
Hal ini dilakukan mengingat pentingnya perencanaan kehamilan untuk menghindari masalah kekurangan gizi atau stunting dan kehamilan tidak diinginkan, karena tidak melakukan perencanaan kehamilan melalui KB. “Sudah di-launching, kami dari provinsi menyerahkan ke kabupaten dan kota. Kami terbuka, kabupaten-kota berapa pun yang diminta kami penuhi,” ujarnya.
Direktur RSKAI Sadewa Wiwik Lestari mengatakan, komitmen tinggi dalam upaya mensukseskan program pemerintah tersebut. Pihaknya akan mengedukasi ibu pasca melahirkan agar dapat memilih pil KB yang aman.
“Kalau ada program ini malah sesuai dengan kebutuhan pasien. Selama ini mereka mencari, nyatanya banyak yang habis melahirkan pingin KB itu banyak,” ujarnya.
Wiwik menyakini program KB akan sukses dilaksanakan, mengingat hampir tidak ada kendala dalam proses edukasi. Terlebih secara logika, ibu yang baru saja melahirkan butuh waktu jeda untuk melakukan kehamilan berikutnya.
“Hampir selalu tidak ada kendala. Kita selalu ada edukasi karena kita wajib mengedukasi pasien setelah melahirkan itu harus ngapain aja, terkait perawatan bayi dan ibunya, termasuk mau hamil mau tepat kapan,” jelasnya. (cr4/laz) Editor : Editor Content