Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Angkat Motif Khas, Karya Belum Jadi Terjual Rp 2,5 Juta

Editor Content • Senin, 24 Januari 2022 | 14:40 WIB
KREATIF: Mahasiswa UNY Nurhuda Ihram Faihan mengolah singkong menjadi kue sus, makanan kekinian. HUMAS UMY FOR RADAR JOGJA
KREATIF: Mahasiswa UNY Nurhuda Ihram Faihan mengolah singkong menjadi kue sus, makanan kekinian. HUMAS UMY FOR RADAR JOGJA
 

RADAR JOGJA - Selain mengeksplorasi motif batik sinom parijhoto salak, perajin batik Sleman Tanti Syarief juga mengangkat tema-tema batik menggambarkan suasa pedesaan. Seperti apa motif batik buatannya?

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Tanti tampak antusias menunjukkan batik-batik buatannya. Ada batik dengan corak sinom parijotho salak, ada motif abstrak, ada motif anggrek, kombinasi corak batik Jogja, dan satu yang berbeda dari lainnya yaitu batik dengan tema panen raya padi.

“Batik ini saya bikin khusus, suasana panen raya padi tradisional,” ungkap Tanti saat Radar Jogja singgah ke stan produknya dalam pameran kriya batik, lurik dan ecoprint bertajuk “Bulan Cantik Batik Nusantara” di Lobi Kantor TVRI Jogja (19/1).

Desain ini Tanti buat khusus. Ini kali pertamanya dia mencoba mengangkat hal baru. Konon terinspirasi dari penggambaran petani zaman dulu yang belum tersentuh teknologi.

Tampak petani mengenakan baju lurik dan memakai caping. Mereka sibuk merontokkan butir-butir padi dari batangnya. lalu beberapa orang memasukkan rontokan butir padi ke dalam karung. Ada juga yang membersihkan butir padi dengan menggunakan tampah.

Menurut Tanti, pemandangan dalam corak batik itu sudah jarang ditemui di era sekarang. Mayoritas petani beralih menggunakan teknologi. Mulai dari menanam padi hingga pemanennya. Corak batik itu seolah-olah menggambarkan kerinduannya terhadap suasana zaman dulu. Di mana petani-petani guyup rukun memanen padi. Juga masih lekat dengan unsur tradisi wiwitan.

Tanti tidak menggambarnya penuh dalam sebidang kain itu. Di bawah pemandangan panen raya itu juga tergambarkan pemandangan sawah. Di mana burung kuntul bertebaran mencari mangsanya di sawah.

Batik dengan ukuran 2,5 x 115 cm ini, dia buat menggunakan pewarna alami. Warna hijau didapatkan campuran tanaman tegeran dengan indigo, kuning, dan biru. Lalu untuk warna cokelat ditambakan soda. Tentunya pengerjaan tidaklah cepat. Butuh waktu satu sampai dua minggu. “Karena tema khusus, saya jual kisaran Rp 1,7 juta. Ini satu-satunya yang saya buat,” tambahnya.

Sebelumnya, Tanti perempuan berusia 57 tahun ini juga membuat desain khusus bertemakan pasar tradisional. Menggambarkan aktivitas pasar dalam goresan naturalis menggunakan chanting. Namun, motif belum selesai dibuat sudah terjual Rp 2,5 juta. “Pembelinya orang Medan. Saat itu saya baru sket dasar, belum diwarna e..e..sudah ditawar,” beber Tanti.

Lewat batik bertemakan khusus, warga Caturtunggal, Depok, Sleman, ini membagikan cerita suasana desa berdasarkan pengalamannya. Lahir di Bantul dan tinggal di wilayah perkotaan Sleman. Seiring perkembangan zaman, terjadi perbedaan kontras di mana teknologi berkembang secara pesat dan berpengaruh pada ruang gerak manusia. “Ya, saya tertarik bikin lebih banyak lagi,” katanya. (laz) Editor : Editor Content
#Sleman #Batik