CEO Teraskaca Nur Nasution mengatakan, wahana “Ngopi in The Sky” statusnya masih soft launching dengan kesiapan 90 persen. Namun dalam perkembangannya menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. Kemudian pihaknya memutuskan untuk melakukan soft launching di-reschedule (jadwal ulang) demi meredam permasalahan.
“Mulai hari ini (kemarin, Red) sampai kita dapatkan kelengkapan dokumen administrasi. Untuk destinasi Teraskaca tetap dibuka untuk umum,” kata Nur Nasution saat dihubungi Kamis (6/1).
Dia kemudian sedikit me-review wahana “Ngopi in The Sky”. Alat crane modern karena sudah digital. Untuk keamanan pengelola menyiapkan alat yang sangat mumpuni. Sebagai contoh 1 slink bisa mengangkat beban 4 ton. Satu titik pakai double slink 2 sehingga total 4 x 2 x 4 titik menjadi 32 ton. Pemakain gondola hanya maksimal 3 ton, jadi masih banyak lebihnya.
“Dan apabila terjadi crane tidak jalan di atas, gondola tetap masih bisa turun dengan mengaktifkan kabel optic menurunkan penumpangnya. Kami juga menyiapkan tabung oksigen jika ada tamu yang kurang sehat sewaktu di atas ya,” bebernya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Gunungkidul Muhamad Arif Aldian mengungkapkan, hasil koordinasi dengan pengelola wahana “Ngopi in The Sky” belum dibuka untuk umum atau masih tahap uji coba. “Belum beroperasi, masih dalam uji coba kemarin itu,” katanya.
Dari pengamatannya, diakui alat yang digunakan merupakan alat berisiko tinggi, sehingga keamanan dan kenyamanan diperlukan uji kelayakan atau sertifikasi keamanan. Termasuk untuk perizinan. “Kami harapkan untuk segera mengurus ke DPMPTSP,” ujarnya.
Pihaknya mengapresiasi atas inovasi wahana pariwisata baru itu, karena bisa mengangkat nama Gunungkidul. Hanya saja untuk operasional wahana harus ada jaminan keamanan alat. “Jika belum ada keyakinan alat, nanti kalau ada apa-apa kasihan, baik dari pengunjung maupun pengelolanya,” ucapnya. (gun/laz) Editor : Editor Content