Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hari Ibu, Momentum Tingkatkan Eksistensi Perempuan

Editor News • Jumat, 24 Desember 2021 | 02:47 WIB
SEJARAH : Menteri  PPA Bintang Puspayoga mengatakan tonggak Peringatan Hari Ibu diawali dari Kongres Perempuan di Jogjakarta pada 22 Desember 1928 di Ndalem Joyodipuran, Kota Jogja.
SEJARAH : Menteri PPA Bintang Puspayoga mengatakan tonggak Peringatan Hari Ibu diawali dari Kongres Perempuan di Jogjakarta pada 22 Desember 1928 di Ndalem Joyodipuran, Kota Jogja.
RADAR JOGJA - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga mengatakan Peringatan Hari Ibu (PHI) merupakan momentum penting. Untuk mengenang perjuangan pergerakan perempuan pada 22 Desember 1928 di Ndalem Joyodipuran, Kota Jogja.

Kala itu, sebanyak 1000 perempuan dari 30 organisasi berkumpul. Fokusnya memperjuangkan haknya dalam memajukan bangsa dan negara. Dari 30 organisasi tersisa Aisyah, Wanita Katolik dan Wanita taman Siswa.

“Tema yang diangkat sejak 2019 adalah Perempuan Berdaya, Indonesia Maju. Sedangkan tema pada tahun 2021 kali ini adalah Perempuan Tangguh di Masa Pandemi. Artinya perempuan harus berani dan inovatif dan menjadi agen perubahan,” jelasnya dalam puncak peringatan Hari Ibu di Manggala Bhakti Wanitatama Jogjakarta, Rabu (22/12).

Dalam puncak peringatan Hari Ibu, Bintang juga mengunjungi Lapas Perempuan di Jogjakarta. Selain itu juga memberikan pendampingan kepada anak yatim piatu. Terutama yang orangtuanya meninggal dunia akibat terpapar Covid-19.

"Semoga hal ini menjadi pendorong bagi kita semua, serta pemangku kepentingan dan masyarakat luas bahwa perempuan punya eksistensi yang tinggi dalam pembangunan di Indonesia," katanya.

Ketua Panitia Peringatan Hari Ibu Ratna Susianawati menuturkan Ndalem Joyodipuran memiliki nilai sejarah yang tinggi. Gedung yang saat ini bernama Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi DIJ lokasi kongres perempuan pertama. Tepatnya pada medio 1928.

Semangat-semangat perjuangan perempuan kala itu masih terekam. Bahkan masih terwariskan hingga saat ini. Wujudnya tentu beragam sesuai dengan perjuangannya masing-masing.

"Seperti saat ini, dalam upaya mengangkat produk unggulan perempuan UMKM, kami gelar pasar virtual. Ibu Menteri bahkan menjual produk UMKM perempuan dan animo masyarakat tinggi," ujar Ratna.

Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu (GKBRAy) Adipati Paku Alam X menyampaikan peringatan Hari Ibu tahun ini sangatlah spesial. Selain di Jogjakarta, juga melibatkan 5 komponen organisasi perempuan. Lalu kegiatannya berupa bakti sosial, vaksinasi dan donor darah.

Momentum ini juga dihiasi dengan lomba menggambar tas pandan. Hasil dari lomba ini selanjutnya dilelang untuk kepentingan amal. Total ada 100 tas pandan yang tercipta dalam perlombaan ini.

"Tas yang telah diwarnai akan dilelang. Hasil lelang kemudian akan diberikan kepada para pengrajin tas pandan di Bantul. Guna mendorong regenerasi sekaligus menjadi stimulus agar UMKM terkait dapat naik kelas," kata Permaisuri Pura Pakualaman ini. (om11/dwi) Editor : Editor News
#Peringatan Hari Ibu Jogjakarta #Kongres Perempuan 1928 Jogjakarta #Menteri PPA Bintang Puspayoga #Ndalem Joyodiporan