Reni menutirkan fenomena La Nina diprakirakan berlangsung hingga periode antara April hingga Juni 2022. Untuk saat ini, Jogjakarta, lanjutnya, telah memasuki musim penghujan. Peningkatan curah hujan biasa terjadi selama periode dasarian I November 2021.
“Pada umumnya dalam kategori di atas normalnya atau rata-ratanya untuk dasarian I November. Pada bulan November La Nina dapat memicu peningkatan curah hujan hingga 60 persen dibandingkan kondisi normalnya atau rata-ratanya,” jelasnya dalam keterangan tertulisnya, Selasa (16/11).
Dalam kondisi normal, curah hujan bisa mencapai kisaran 300 milimeter hingga 500 milimneter dalam satu bulan. Ini sudah termasuk dalam kategori tinggi hingga sangat tinggi. Adanya La Nina membuat curah hujan semakin berlipat.
“Sedangkan pada periode musim hujan Desember, Januari lalu Februari, La Nina dapat memicu peningkatan curah hujan dalam kisaran 20 persen hingga 60 persen. Padahal dalam kondisi normal sudah tergolong tinggi hingga sangat tinggi,” katanya.
Atas potensi ancaman bencana hidrometeorologi ini Reni mengimbau masyarakat selalu waspada. Untuk memperhatikan kondisi rumah maupun drainase di lingkungan. Guna memastikan tak ada dampak primer maupun sekunder dari hujan lebat.
Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait. Guna mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi di wilayah Jogjakarta. Salah satunya agar mengoptimalkan pengelolaan tata air yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Dengan menyiapkan kapasitas sungai dan kanal untuk antisipasi debit air yang berlebih. Kami akan terus mengupdate informasi setiap waktu. Sehingga antisipasi lebih cepat dan efektif,” ujarnya. (dwi) Editor : Editor News