Kondisi yang berbeda terjadi di India. Tercatat tes swab PCR di negara tersebut seharga 500 Rupee. Dalam kurs Indonesia, tarif tes Covid-19 ini mencapai Rp 96 ribu.
"Kalau Jogja jelas ikut acuan dari pemerintah pusat. Bisa jadi di India murah karena reagennya produksi sendiri. Memang bahannya itu (Reagen) yang cukup mahal. Kita masih import," jelas Sekprov Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji ditemui di Kompleks Kantor Kepatihan Pemprov DIJ, Jumat (13/8).
Untuk harga swab PCR di Jogjakarta, lanjutnya, tergolong normal. Rata-rata secara nasional tes swab PCR secara mandiri mencapai Rp 600 ribu hingga Rp 900 ribu.
Beberapa rumah sakit di Jogjakarta menerapkan tarif yang beragam. Seperti di RSUP dr Sardjito mencapai Rp 750 ribu. Harga yang sama juga tertera di RS Panti Rapih.
Hasil PCR di kedua rumah sakit ini keluar satu hari setelah tes. Pendaftaran dapat dilakukan melalui aplikasi rumah sakit atau melalui telepon. Pelayanan ini berlaku di jam-jam tertentu dari Senin sampai Minggu.
Harga tertinggi di RSA UGM. Bedanya hasil tes dapat diambil dalam waktu 24 jam. Sehingga pemilik sampel tidak perlu menunggu sehari setelah menjalani swab PCR.
"Tak hanya Reagen, tes PCR mandiri itu kan ada biaya jasa dan depresiasi alat. Jadi ada selisih harga karena itu juga," kata Kadarmanta Baskara Aji.
Tercatat saat ini ada 19 laboratorium yang dapat menguji specimen Covid-19. Tak hanya plat merah milik pemerintah tapi juga laboratorium swasta. Seluruhnya memiliki wewenang dalam menguji specimen swab PCR.
"Laboratorium saat ini ada 19 unit, sudah tambah per 3 Agustus kemarin. Itu gabungan pemerintah dan swasta," ujar Sekprov Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji.
Sebelum terjadi penambahan laboratorium, jumlah specimen teruji perharinya mencapai 4.048 sampel. Pasca setelahnya dapat mencapai 6.458 specimen perhari. Sementara target Jogjakarta mencapai 8.000 sampel perharinya.
Guna mencapai target harian, data hasil tes rapid antigen turut digunakan. Aji memastikan tak ada larangan terkait skema ini. Terlebih akurasi swab antigen diatas 90 persen.
"Kalau semua dihitung diperiksa dengan PCR kita kurang baru bisa 6.000 sekian. Rata-rata perhari kita sekitar 8.000 sisanya menggunakan antigen," kata Kadarmanta Baskara Aji. (dwi/sky) Editor : Editor News