Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Simbol Kebijaksanaan yang Sempat Ada

Editor Content • Minggu, 11 April 2021 | 19:01 WIB
Photo
Photo
 

RADAR JOGJA - Di salah satu sudut Alun-Alun Kidul (Alkid) Jogja dulu terdapat kandang gajah. Kandang itu berisi gajah-gajah milik Keraton Jogja yang biasa dipakai untuk acara-acara Keraton. Misalnya saat acara garebeg, yakni mengarak gunungan dari Keraton Jogja menuju Pura Pakualaman.
Namun, sejak tahun 2010 kandang gajah itu kosong melompong. Tak ada lagi gajah di situ. Kabarnya beberapa gajah ada yang mati, dan sisanya juga sudah dititipkan ke Kebun Binatang Gembira Loka (GL Zoo). Gajah Alkid yang mati kini bisa ditemukan di Museum Biologi Jogja.
Padahal gajah Alkid ketika itu mampu menarik perhatian pengunjung. Ratusan orang setiap hari bisa melihat gajah-gajah itu secara gratis. Pengunjung pun bisa naik gajah dengan membayar lebuh dulu, kendati harus rela antre lama karena peminatnya banyak, terutama anak-anak.

Photo
Photo
GBPH Yudhaningrat.(Hery Kurniawan/Radar Jogja)

Gajah Alkid ini seakan menjadi magnet pengunjung. Hukum ekonomi pun terjadi. Ada gula, ada semut. Ya, para penjual aneka makanan dan minuman ikut mengais rezeki di sekitar gajahan. Saat liburan seperti Sabtu dan Minggu, pengunjungnya lebih banyak. Apalagi saat liburan panjang, pasti penuh.
Gusti Bendara Pangeran Harya (GBPH) Yudhaningrat, salah seorang pangeran di Keraton Jogja mengatakan, dalam banyak kebudayaan di dunia, tak bisa dilepaskan dengan binatang. Tak terkecuali di Keraton Jogja. Salah satu binatang yang cukup identik dengan keraton adalah gajah.
Ya, sejak awal keberadaan Kerajaan Mataram, gajah sudah akrab dengan kerajaan. Dulu gajah kerap digunakan untuk kendaraan ketika berperang. Karena gajah sendiri merupakan binatang besar dan sangat kuat.
“Panembahan Senopati dulu sudah pakai gajah,” ujar Gusti Yudha, panggilan GBPH Yudhaningrat. Adik Sultan Hamengku Buwono X ini juga bercerita bahwa Sultan Hadiwijaya atau yang juga dikenal dengan Joko Tingkir, juga sempat menaiki gajah untuk berperang. Namun dalam perjalanannya, gajah yang dinaiki Jaka Tingkir kabarnya terkena lontaran batu akibat letusan Gunung Merapi.
Seiring berkembangnya zaman, keberadaan gajah di keraton tidak lagi jadi kendaraan untuk perang. Tapi digunakan untuk acara-acara khusus keraton seperti garebeg. Juga sempat jadi penarik minat masyarakat untuk mengunjungi Alun-Alun Selatan.
Gusti Yudha memaknai gajah yang ada di keraton dengan makna yang dalam. Menurutnya, gajah itu melambangkan kebijaksanaan bagi siapa saja, termasuk seorang raja. “Sebagai lambang kebijaksanaan seperti Batara Gana,” ujarnya.
Sementara itu, GBPH Prabukusumo menyatakan, dirinya merupakan salah satu yang menggagas adanya gajahan di Alun-Alun Kidul. Menurut Gusti Prabu, ia kala itu mendapatkan sumbangan sepasang gajah dari Gubernur Lampung Poedjono Pranyoto.
Menurut adik Sultan HB X ini, dulu ia iseng menyurati Gubernur Poedjono untuk meminta sepasang gajah. Tak disangka, gajah-gajah itu datang ke Jogjakarta tidak lama kemudian.
“Saya kaget kok begitu cepat reaksi beliau. Tidak sampai seminggu segera dikirim sepasang gajah. Tapi saya lupa tahunnya,” kenang Gusti Prabu. (kur/laz) Editor : Editor Content
#GL ZOO