Tak ada karya seni ataupun benda pusaka, pameran ini justru mengangkat jamuan kenegaraan ala keraton. Mulai dari perkakas diatas meja makan hingga alat memasak dapur koleksi raja-raja terdahulu.
Pameran ini menghadirkan barang yang tak biasa. Memasuki pintu masuk ruang pamer akan disuguhi peta sumber persediaan logistik. Mulai dari gula, beras hingga beragam jenis bumbu dapur.
"Konsep dari pameran Bojakrama ini lebih luas, tidak hanya sekadar sendok garpu porselen tapi sejarah pangan di Jogjakarta. Ada peta yang menggambarkan daerah-daerah penyuplai beras, gula dan bahan pangan lainnya," jelas Penghageng Kawedanan Hageng Punokawan Nitya Budaya Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara ,Jumat (2/4).
Selain peta sumber bahan pangan, pameran ini juga menyajikan koleksi-koleksi porselen klasik. Mulai dari koleksi Sri Sultan Hamengku Buwono VI hingga Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Adapula sendok, garpu yang terbuat dari perak.
Seluruhnya tertata apik dalam setiap sudut ruang pameran. Untuk menguatkan narasi adapula potongan foto dan video. Menggambarkan bagaimana suasana dapur dan jamuan resmi di meja makan pada masa lampau.
"Kebanyakan itu memang koleksi era Sri Sultan Hamengku Buwono VI, VII dan VIII. Memang ada koleksi milik Sri Sultan Hamengku Buwono IX tapi tidak sebanyak koleksi ngarso ndalem sebelumnya," katanya.
GKR Bendara menambahkan, tradisi perjamuan sendiri telah muncul sejak era Sri Sultan Hamengku Buwono I. Hanya saja mengalami perkembangan pesat pada masaSri Sultan Hamengku Buwono VIII. Salah satu penanda adalah muncul munculnya istilah rijsttafel. Berupa sajian makan nasi yang dihidangkan secara spesial.
Pada era ini, tidak hanya berbicara sajian kuliner di atas meja. Tapi juga bagaimana protokol yang menyertainya. Adaptasi budaya Eropa sangat kental pada era tersebut. Semakin lengkap dengan adanya seni pertunjukan sebagai bagian dari ritual kenegaraan.
"Ada akulturasi budaya dalam jamuan meja makan. Dulu sering diadakan jamuan bergaya Eropa di Bangsal Manis dengan menu ala barat disertai dengan seni pertunjukan," tambahnya.
Setidaknya ada 60 set koleksi yang dipajang dalam Pameran Bojakrama ini. Uniknya beberapa alat dapur seperti Sutil, dandang, ceret hingga tungku juga turut dipajang. Menggambarkan bahwa hidangan-hidangan perjamuan tetap diolah dengan cara yang tradisional.
Selain terbuka untuk umum, adapula virtual tour melalui aplikasi zoom. Tak hanya berkeliling, pengunjung daring juga bisa mengikuti workshop minum teh. Setiap peserta akan dikirimi teh. Lalu bisa berinteraksi secara langsung melalui zoom meeting sesuai jadwal yang telah ditentukan.
"Konsep ini kami terapkan selama pandemi Covid-19 tapi tetap bisa berkunjung. Cuma besok memasuki puasa, Cepuri keraton hanya buka Jumat, Sabtu dan Minggu. Kami geser dari jam.11.00 WIB sampai loket tutup jam 16.00," katanya. (dwi/sky) Editor : Editor News