MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja
Setinggi lengan orang dewasa roda bagian depan sepeda itu. Berdiameter 112 centimeter (cm). Roda belangnya mini. Berdiameter 16 cm. Pedalnya di kedua sisi roda depan. Tanpa rantai.
Stang sepeda, hanya berjarak sejengkal dari roda depan. Lengkap dengan aksesoris lampu lilin, rem, juga klakson yang kerap dipakai pedagang siomay.
Menaiki sepeda ini butuh teknik khusus. Untuk mencapai sedel atau dudukan sepeda, harus menaiki dua anak tangga yang melengkung beriringan dengan roda depan. Tangga itu berada tepat di atas roda mini. “Begini mengayuhnya,” ungkap Aji sembari mempraktikkan.
Mula-mula sepeda didorong terlebih dahulu sepanjang lima meter. Begitu roda berputar, Aji langsung menaiki anak tangga itu. Tak sembarangan melangkah. Harus didahului kaki kiri. Lantas dilanjutkan kaki kanan di tangga atasnya. Kemudian pantat dijatuhkan ke dudukan kursi dan berikutnya siap mengayuh.
Gerakan ini harus dilakukan secara gesit. “Fokus dan seimbang agar tidak jatuh,” ungkap Aji, pria berusia 43 itu. Menurutnya, tidak mudah menaiki sepeda ontel ini. Membutuhkan kesabaran dan latihan rutin.
Sebab, jika tak terbiasa, goyang dikit paha udah kena roda. “Kalau sudah kaget, hilang keseimbangan, jatuh. Itu dulu saya sering,” bebernya.
Begitu juga saat turun. Kaki dimulai dari kiri. Baru dilanjutkan kaki kanan. “Kalau belok, kaki sebaiknya mengikuti roda,” ucapnya.
Sepeda ini merupakan koleksinya. Sepeda andalannya yang menemani seminggu sekali berkeliling Jogjakarta. Menempuh jarak 30 sampai 40 km. Warga asal Jalan Parangtritis Km 3,5, Bangunharjo, Sewon, Bantul, ini sudah tiga tahun meminangnya. Ya, dia pesan custom. Serupa bentuk aslinya.
Konon, sepeda onthel unik ini sudah ada sejak 1838. Original buatan Inggris. Namanya pernipeting. Atau sepeda kayuh. Namun, sepeda ini memiliki kekuatan yang tak diragukan. Bahkan zaman dulu sudah digunakan untuk lomba balap sepeda.
Menurutnya, kecintaanya pada sepeda klasik ini merupakan cara dia mengangkat budaya masa lalu. Peninggalan masa lalu yang harus diuri-uri. Agar tidak punah. Asyik, budaya klasik nan nyentrik. Begitu menyebutnya.
Demikian juga Heri. Pria berusia 53 tahun itu tampak asyik mengendarai sepeda di dalam mal. Bahkan sesekali membunyikan klaksonnya layaknya jualan siomay. Sontak membuat terkesima seisi mal. “Seneng aja bersepeda,” celoteh Heri.
Karena kecintaannya pada sepeda klasik, keduanya pun bergabung pada Paguyuban Onthel Jogjakarta (Pojok). Mereka aktif mengikuti berbagai event gowes sepeda dan aktif mengikuti kompetisi. “Ada yang dari luar kota. Ada gowes mancanegara,” kata warga Jogja ini.
Di penghujung festival andong pun, mereka menyabet juara. Heri juara pertama dan Aji juara kedua. Mereka mengantongi uang pembinaan masing-masing Rp 6 juta dan Rp 4 juta. Sontak keduanya bahagia dengan tertawa ria. (laz) Editor : Editor Content