Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kisah dari Teman Mandi

Editor Content • Minggu, 20 Desember 2020 | 16:18 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Salah satu sastrawan yang lahir pada era yang sama dengan Linus Suryadi AG adalah Muhammad Ainun Nadjib. Akrab disapa Emha Ainun Nadjib, Cak Nun atau Mbah Nun. Pria 67 tahun ini bahkan mengaku tidak memiliki sahabat sekental Linus. “Linus adalah sahabat terdekat saya. Untuk menggambarkan dekat saya dan Linus, pokoke adus bareng. Dadi aku ngerti, Linus sunat opo ora (Sampai mandi bareng. Jadi aku tahu, Linus sunat atau tidak, Red),” kelakarnya.

Cak Nun juga masih menyebut jika dia kehilangan penyair yang berpulang pada 30 Juli 1999 itu. Kedekatannya dengan Linus bukan hanya terbangun dalam dunia syair. Tapi juga sebagai manusia dan keluarga. Karenanya, Cak Nun dekat dengan ibu, bapak, kakak, dan adik-adik Linus. “Bahkan Kring Katolik di Desa Kadisobo, Turi, Sleman, saya sangat dekat dengan mereka. Saya sama Linus itu jembatan keindonesiaan yang luar biasa. Karena latar belakang saya dan dia sangat berbeda,” jelasnya, seraya menggerakkan jemari mengisyaratkan lintasan.

Ya, Cak Nun merupakan seorang santri dari Jombang, Jawa Timur. Sementara Linus memiliki latar belakang Katolik dan berasal dari dusun. Dengan bertemu Linus, Cak Nun membangun mozaik kekayaan nilai budaya Jogja. “Karena Jogja adalah akar saya yang kedua, akar pertama saya adalah Jombang. Akar nasional saya adalah Jogja,” cetusnya yang dipertemukan dengan Linus pada era 1970-an. Sebuah era yang disebutnya mewadahi generasi yang beruntung, lantaran menjadi era emas dalam berkesenian.

Pertemuan Cak Nun dan Linus sendiri terjadi di Malioboro. Berjodoh, melalui Umbu Landu Paranggi. Seorang seniman, yang kata Cak Nun pantas disebut begawan, berkesenian tanpa spesialis dan universal. Sang pendidik bagi calon-calon penyair. “Puisi era awal Linus, banyak dipengaruhi Umbu,” ujarnya menggebu.

Namun untuk karya fenomenal Linus yang berjudul Pengakuan Pariyem, diungkap oleh pria kelahiran 27 Mei 1953 ini dibantu Umar Kayam. Seorang sastrawan, yang sangat sayang terhadap Linus dan Cak Nun, bahkan menjadikan mereka sebagai anak angkat. “Saking sayangnya Pak Kayam, kalau Linus sakit, pasti saya dijemput untuk menemani Linus. Tapi kalau saya sakit, dianggap bukan masalah,” ujar dia yang pernah menjaga Linus sampai pagi ketika sakit itu.

Menurut Cak Nun, Pengakuan Pariyem adalah karya antropolis yang belum rampung. Sebab, ternyata seharusnya Pengakuan Pariyem membutuhkan satu tingkat lagi untuk menjadi sempurna. “Harganya Linus, dia di dalam akar sunyi dan hening. Pariyem itu, menurut saya akar hening. Saya tidak mengatakan saya senang atau tidak, bagus atau tidak. Meskipun itu belum tamat. Harusnya, Pengakuan Pariyem dibangun dengan karya yang satu tingkat lagi. Tapi itu tetap catatan monumental dari lokalitas yang dibangun Linus,” ucapnya.

Sebuah ide yang menurut Cak Nun gila. Di tengah arus yang deras globalisasi, Linus justru memusatkan diri pada akar pijakan. “Pokoknya ini era globalisasi.

Yang lokal mati. Linus, dengan berguru pada Pak Kayam, dia konfirmasi kebudayaan Jawa pada Pak Kayam. Dia bikin Pengakuan Pariyem. Itu awalnya puisi delapan halaman. Kemudian menjadi 19 halaman. Menjadi buku kecil. Kemudian menjadi buku besar. Menurut saya, Linus sangat Jogja. Dia betul penyair Jogja, karena antropologinya Jogja. Dia tidak menulis yang ndak-ndak.

Dia menulis, mengerti wanita, budaya, dan keluarga Jawa. Di tengah, sekecil, (diitari, Red) globalisasi. Itu menurut saya, sakit jiwa. Di saat kita tidak percaya diri. Kita merasa kesepian, tersingkir, dan asing,” pujinya.

Sedangkan sebagai manusia, Cak Nun menyebut Linus sebagai seseorang yang sangat lembut. Tapi rambutnya gondrong seperti singa. Secara budaya dia liberal, karena menjadi manusia yang merdeka. “Meskipun bocahe lembut, meneng (orangnya lembut, pendiam). Neng saya senang sama cewek. Suatu pagi saya datang ke rumah Linus, ternyata perempuan itu sedang diciumi sama Linus,” kenangnya, dengan geram.

Kendati begitu, Cak Nun menyebut dia dan Linus tidak pernah memiliki perkara. Sampai Linus kawin dan memiliki keturunan, bahkan menjelang meninggal, Cak Nun masih berteman akrab. Hanya saja, dalam pertemanan itu ada “pengacau”. “Artinya, abad 20 tidak pernah ada masyarakat rukun. Selalu bertentangan, antargolongan, partai, mazhab, agama, jurusan, dan macam-macam. Saya dan Linus dipertengkarkan. Saya bagian selatan, Linus bagian utara. Golongan seniman utara itu Linus. Golongan seniman selatan itu saya. Dan itu latar belakangnya agama. Saya muslim, Linus Katolik,” sesalnya.

Beruntung, Cak Nun dan Linus saling mempercayai kasih dan rasa persaudaraan mereka. “Jadi saya dan Linus tidak pernah berkurang rasa persaudaraan dan kasih sayang. Karena saya sama Linus sayang bener. Saya tidak percaya Linus memusuhi saya. Linus pun percaya saya tidak memusuhi.

Itu betul-betul rekayasa sistem,” papar pria yang pernah disebut sebagai dalang demonstrasi puisi Linus yang berjudul Sunat.

Terakhir, Cak Nun berharap ke depannya seniman Jogja memiliki kedaulatan sebagai seniman. Tidak gampang diintervensi atau diprovokasi dan dikontaminasi hal-hal di luar kesenian. “Saya berpesan kepada generasi muda.

Pertengkaran kita itu di karya saja. Kebaikan dalam berkarya. Bukan persaingan ideologi, latar belakang, atau asal muasal identitas. Sing penting koe gawe puisi opo teater apik opo ora (yang penting karyamu bagus atau tidak, Red). Saya kira semangat itu yang harus dibangun,” pesannya. (fat/laz)

dok. caknun.com Editor : Editor Content
#Linus Suryadi AG #cak nun