Bau busuk sampah basah tercium begitu memasuki kampus Sekolah Tinggi Ekonomi Kerjasama (STIEKers) di Jalan Parangtritis, Sewon, Bantul. Pantauan Radar Jogja Rabu (16/12) lahan seluas 5,097 hektare itu tumbuh rumput ilalang yang tak terawat. Beberapa sudut tanah kosong juga dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah. Terlebih paling ujung terdapat kolam, setengah dari kolam itu hanya dipenuhi tumpukan sampah. "Ada banyak sampah jelas mengganggu pandangan dan kurang nyaman ya," kata salah seorang warga sekitar Wiharjo.
Menurut dia, pembuangan sampah liar terjadi sejak lama. Pasca-bangunan kampus dibongkar. Sampah liar merupakan kiriman dari gerobak-gerobak pembuang sampah dari warga maupun orang-orang pelintas jalan. Pembuangan biasa dibuang malam hari atau siang hari untuk gerobak sampah. " Pernah saya tegur, tapi ya ada lagi dan terus. Akhirnya saya suruh buang ke belakang yang ada kolamnya supaya enggak kelihatan," ujar pria yang juga berdagang di sekitar eks Kampus STIEKers itu.
Meski tidak lagi membuang di area lahan bagian depan. Namun sampah nampak menggunung di area kolam yang masih menjadi satu lahan eks Kampus STIEKers itu. Sebagian kolam nampak jernih dimanfaatkan warga untuk memancing. Sebagiannya habis tertutupi oleh sampah-sampah. "Setiap hari saya bakar sampah yang masih ada di depan-depan ini supaya enggak bau dan bersih aja," jelasnya.
Salah seorang penggerobak sampah Parjono mengatakan, dalam sehari dia membuang dua kali sampah ke kolam tersebut. Sampah-sampah yang dibuang merupakan sampah rumah tangga dari warga Salakan, Sewon,. "Iya saya buangnya memang d isini. Wong nggak banyak kok," katanya santai.
Pria 80 tahun itu beralasan, bahwa tidak ada pilihan lain untuk membuang sampah di area lahan tersebut. Sebab, tempat pembuangan sementara (TPS) dinilai terlalu jauh dari lokasi . Belum lagi, harus mengantre lama. Terlebih dia menggunakan gerobak manual ditempuh dengan jalan kaki. Sebelumnya, sampah dibuang di TPS Sorosutan. "Enggak ada TPS yang lebih dekat dari itu. Di sini memang dekat jarak untuk membuang sampah dari saya ngambil sampah di rumah-rumah warga dusun Salakan," jelasnya.
Salah seorang warga Dusun Salakan, Nur mengatakan dulunya sebelum ada sampah yang menggunung kolam tersebut bersih dan jernih airnya. Sering dimanfaatkan warga untuk memancing. "Dulu awal-awal hanya dibuang di dekat jalan sana tapi sekarang meluber malahan udah mau sampai ke tengah kolam," katanya. "Saya sering ke sini, sebelum ada sampah, karena tempatnya enak silir, dulu pemancing-pemancing banyak sekarang jarang banget," lanjut pria yang membawa tiga cucunya itu.
Ketika dikonfirmasi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIJ Beny Suharsono mengaku, saat ini masih didesain pemanfaatan aset eks kampus STIEKers tersebut untuk perhubungan dan kebudayaan. Sesuai dengan rencana awal pembelian dulu. “Sekarang kami masih mendesain, disesuaikan dengan pertumbuhan di sana, integrasi awalnya untuk kantong parkir dan kebudayaan,” tuturnya.
Terkait keluhan warga, mantan Sekretaris DPRD DIJ itu mengatakan, akan segera melakukan pengamanan aset. Menurut dia, permasalahan di sana saat ini tak hanya karena dipakai membuang sampah, tapi juga ada pedagang liar di sekitarnya. Juga sempat dikeluhkan menjadi parkir liar truk. “Karena kan memang sulit, lahannya terbuka, di pinggir jalan, segera kami lakukan pengamanan aset,” ungkapnya. (wia/pra) Editor : Editor Content